Kemenkes Ungkap Pengidap Penyakit Tak Menular Lebih Berpotensi Terjangkit Corona
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Direktur Pencegahan dan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Cut Putri Arianie, menyebut bahwa negara lain yang tengah dilanda pandemi corona seperti Italia dan Amerika Serikat juga mengalami kondisi yang serupa.

WowKeren - Orang-orang yang mengidap penyakit tak menular disebut lebih berpotensi terinfeksi COVID-19. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Cut Putri Arianie.

Menurut Putri, negara lain yang tengah dilanda pandemi corona seperti Italia dan Amerika Serikat juga mengalami kondisi yang serupa. "Memang orang-orang kelompok penyakit tidak menular ini adalah orang rentan terinfeksi (COVID-19)," tutur Putri dalam diskusi di Graha BNPB pada Sabtu (4/7).


Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Eka Ginanjar. Eka menyatakan bahwa pengidap penyakit tak menular akan menderita COVID-19 lebih lama dibandingkan orang tanpa penyakit tak menular. "Jadi ada dua hal yang mudah tertular dan kalau tertular akan menjadi lebih berat dibandingkan dengan orang yang tidak punya penyakit tidak menular," jelas Eka dalam kesempatan yang sama.

Adapun salah satu penyakit tidak menular dan membuat pengidapnya lebih rentan terinfeksi COVID-19 adalah hipertensi. Eka pun menjelaskan bahwa pengidap hipertensi memiliki kondisi pembuluh darah yang tidak baik dan kekebalan tubuh yang semakin menurun.

"Kekuatan mukosa lapisan- lapisan tubuhnya itu sudah tidak terlalu bagus lagi," ungkap Eka. "Jadi mudah tertular."

Penyakit penyerta alias komorbid pada pasien COVID-19 disebut mempengaruhi masa penyembuhan. Kepala Divisi Tropik Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto Soroy Lardo mengatakan bahwa pasien COVID-19 dengan komorbid membutuhkan perawatan sekitar dua hingga tiga minggu.

"Jadi kalau pasien itu dengan komorbid, tentu akan lama, ya, jadi bisa perawatan itu dua sampai tiga minggu," ungkap Soroy pada Kamis (2/7) lalu. "Tapi kalau tanpa komorbid itu biasanya kita evaluasi itu sampai dua minggu."

Di sisi lain, Indonesia melaporkan 1.447 kasus positif COVID-19 pada Sabtu (4/7) hari ini. Dengan demikian, total kasus terkonfirmasi kini telah mencapai 62.142.

Dari angka tersebut, 28.219 pasien telah dinyatakan sembuh. Sedangkan 3.089 pasien COVID-19 dilaporkan meninggal dunia.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts