Penularan COVID-19 di Klaster 3 Perusahaan di Semarang Diduga Terjadi Via Alat Absen
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Adapun penularan virus corona di ketiga perusahaan tersebut diduga terjadi melalui media alat absensi sidik jari dan juga kegiatan makan bersama yang tak menerapkan protokol kesehatan.

WowKeren - Tiga perusahaan di Kota Semarang, Jawa Tengah, disebut menjadi klaster COVID-19 baru usai ratusan karyawan dinyatakan positif terjangkit virus corona. Adapun penularan virus corona di ketiga perusahaan tersebut diduga terjadi melalui media alat absensi sidik jari dan juga kegiatan makan bersama yang tak menerapkan protokol kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, menjelaskan bahwa para karyawan yang terjangkit COVID-19 diketahui absen dengan menyentuhkan jari tangan ke alat pemindai sidik jari tersebut. Namun setelah menyentuh alat absen tersebut, karyawan tidak mencuci tangan atau memakai hand sanitizer.

Kemudian dugaan yang kedua adalah penularan terjadi melalui kegiatan makan bersama saat istirahat kerja. Kegiatan makan bersama itu disebut tidak dilakukan secara berjarak dan tanpa pembatasan tanpa penghalang.

"Kita lihat dan simpulkan sementara, itu dari finger print. Saat absen, tangan atau jari menyentuh alat, padahal alat terkontaminasi dari karyawan yang positif. Yang menyentuh, kemudian tidak cuci tangan atau pakai hand sanitizer," ungkap Hakam pada Senin (6/7). "Untuk yang kedua, karena makan bersama, perusahaan dan karyawan tidak melakukan physical distancing dengan berjarak atau dibatasi barrier."


Dari ketiga klaster anyar ini, hampir 200 orang karyawan terdeteksi positif COVID-19. Dengan demikian, klaster perusahaan ini menyumbang angka positif COVID-19 terbesar di Kota Semarang.

"Untuk tiap perusahaan jumlah yang positif berbeda-beda, ada yang 47 karyawan, ada yang 24 karyawan dan ada yang 100 lebih," jelas Hakam. "Ini belum ditambah tracking kita ke orang terdekat dan keluarganya."

Sebelumnya, klaster COVID-19 di tiga perusahaan ini disampaikan oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat konferensi pers di kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang pada Minggu (5/7). Kebanyakan pasien positif COVID-19 di klaster industri tersebut merupakan orang tanpa gejala (OTG).

"Salah satu industri, kita sudah tracing ada beberapa karyawan. Punya anak perusahaan dikejar terus. Keluarga dikejar terus," jelas pria yang akrab disapa Hendi itu. "Keluarga dikejar terus. Intinya kami mengejar tracing supaya tidak ada penularan di Semarang karena ketidaktahuan. Kami ingin sedetail-detailnya terungkap."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts