Pemerintah Diminta Waspadai Efek ADE dalam Uji Vaksin COVID-19, Apa Itu?
Nasional
Vaksin COVID-19

Pada 2017 lalu, sempat ada kejadian suatu negara menarik peredaran vaksin usai ditemukan kasus hiper sensitifitas pada seorang anak terhadap virus penyakit lain

WowKeren - Guru besar Biologi Molekular Universitas Airlangga (Unair), Chairul Anwar Nidom meminta pemerintah untuk mewaspadai efek samping pengujian vaksin corona tahap tiga yang saat ini tengah berlangsung. Ia menyebut adanya potensi timbulnya Antibody Dependent Enhancement (ADE) dalam uji klinis tersebut.

Ia mengakui jika peluang terjadinya efek samping tersebut amat rendah. Namun walau bagaimanapun juga, kemungkinan itu tetap ada. Sehingga ia mengingatkan pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipasi menanganinya.

"Jadi ada 1 sampai 3 persen yang dikhawatirkan oleh para peneliti," kata Chairul dalam diskusi Sindo Trijaya FM seperti dilansir Kumparan, Sabtu (15/8). "Timbulnya Antibody Dependent Enhancement jadi imuno patogen," Nah ini yang harus dicermati."

Sehingga ia meminta pemerintah untuk tidak melupakan kemungkinan ini. "Jangan sampai uji fase ketiga selesai kemudian kita melupakan hal itu," sambungnya.


Ia kemudian bercerita mengenai timbulnya ADE dalam peredaran vaksin demam berdarah 2017 silam. Kala itu, suatu negara menarik peredaran vaksin usai ditemukan kasus hiper sensitifitas seorang anak terhadap virus penyakit lain.

Menjelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami, pada umumnya orang akan sembuh dari infeksi pertama ketika vaksin sudah disuntikkan. Namun, beda cerita ketika infeksi kedua terjadi. Alih-alih sembuh, bisa jadi kondisinya justru kian memburuk.

"Karena vaksin demam berdarah tahun 2017 sampai ditarik dari negara itu oleh presidennya," jelas Chairul. "Karena menimbulkan hiper sensitifitas terhadap anak yang divaksin, ini yang perlu dapat perhatian."

Kendati demikian, kejadian semacam masih bisa dicegah dengan langkah antisipasi yang tepat. Sehingga publik tak perlu resah dengan peluang terjadinya efek samping tersebut. "Kepada masyarakat untuk menanggapi uji klinis ketiga ini tak perlu risau dan membuat dugaan yang tak sepatutnya," ujarnya menambahkan.

Sebab, uji klinis tahap ketiga memang sudah menjadi bagian dari prosedur pengembangan vaksin sebelum akhirnya bisa diproduksi secara massal. Terlebih lagi, uji klinis ini dikawal secara ilmiah. "Karena memang uji klinis ketiga ini merupakan bagian dari suatu uji vaksin dan dikawal secara ilmiah," kata Chairul.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts