Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD berbicara mengenai Islam Wasathiyah yang dinilai cocok dengan Indonesia. Ini penjelasannya.
- Ruth Meliana
- Selasa, 18 Agustus 2020 - 09:36 WIB
WowKeren - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD baru saja membahas mengenai Islam Wasathiyah yang dinilai cocok diterapkan di Indonesia. Ia mengatakan perlunya pengetahuan terkait Islam Wasathiyah.
Pernyataan tersebut diungkapkan Mahfud saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku Fikih Kebangsaan Jilid III. Menurutnya, Islam Wasathiyah dipandang sebagai Islam yang menuju jalan tengah tanpa adanya nilai-nilai ekstrim.
”Alhamdulillah buku Fikih Kebangsaan seri III diluncurkan,” ujar Mahfud dalam keterangan tertulis seperti dilansir dari Detik, Senin (17/8). “Isi buku ini, memaparkan hubungan Islam dan negara.”
”Memang perlu disebarluaskan wacana keilmuwan Islam Wasathiyah. Islam jalan tengah, yang tidak ekstrim ke kanan dan ke kiri,” sambungnya. “Ya inilah yang cocok bagi bangsa Indonesia.”
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini lantas menjelaskan jika Islam Wasathiyah dinilai cocok bagi Tanah Air karena telah dirumuskan sejak berdirinya Republik Indonesia. Adapun tokoh Islam yang tergabung dalam BPUPKI yang ikut merumuskannya.
Lebih lanjut Mahfud menilai jika agama Islam telah mengalami perkembangan di Tanah Air dari waktu ke waktu. Hal ini dibuktikan dari sebelum Indonesia merdeka dan sesudah merdeka. Orang Islam yang pada awalnya disudutkan dan tidak banyak berperan di pemerintahan hingga lingkungan masyarakat, kini mulai mendapatkan tempat.
”Awal kemerdekaan, mau jadi tentara nggak boleh. Tapi sekarang, semua berubah. Makanya salah kalau orang menyebut ada islamophobi,” jelas Mahfud. “Pak Tito (Mendagri) ngajinya pinter. Jadi imam kelasnya bukan Qulhu. Surat panjang, beliau fasih. Tapi bisa jadi Kapolri, bisa jadi menteri.”
”Di kantor polisi ada pengajian, Kapolresnya pintar ngaji, pintar dakwah. Di kantor TNI juga demikian,” sambungnya. “Di kampus-kampus, Islam sudah terang-terangan. Dulu sampai akhir 70-80 malu-malu, pakai jilbab jarang. Sekarang semua pakai jilbab. Tidak ada sekali lagi islamplophobi saat ini. Kalau ada yang bilang, itu pihak yang kalah saja. Karena yang diserang mereka juga memperjuangkan Islam.”
(wk/lian)