Mutasi baru virus corona (COVID-19) yang ditemukan di Indonesia disebut-sebut 10 kali lebih menular. Ahli epidemiologi lantas menjelaskan seberapa besar tingkat bahayanya.
- Ruth Meliana
- Selasa, 01 September 2020 - 12:07 WIB
WowKeren - Mutasi virus corona (COVID-19) yang menular 10 kali lebih kuat dari sebelumnya telah ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia. Temuan ini pertama dilaporkan oleh Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Unair menyebut jika mutasi virus tersebut memiliki tipe D614G. Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Syahrizal Syarif turut menanggapi seberapa bahayanya penularan COVID-19 dari mutasi tersebut.
Syahrizal menilai jika mutasi virus memang hal yang wajar dan biasa terjadi. Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan mutasi COVID-19 jenis baru tersebut.
”Mutasi virus biasa aja, dia memang punya karakter shifting dan drifting, shifting dia antar virus itu bisa pertukaran genetik, bahkan bisa hybrid dia, bahkan bisa kawin,” ujar Syahrizal Syarif seperti dilansir dari Suara, Senin (31/8). “Kalau drifting itu rantai basa perubahan protein permukaan virus, itu hal biasa aja, apalagi dalam situasi wabah begini.”
Soal tingkat bahaya mutasi virus corona tipe D614G, Syahrizal menyebut hal itu tergantung saat virus memasuki tubuh manusia. Selama ini, virus biasa bermutasi saat memasuki manusia ke manusia lain yang berbeda.
Syahrizal mengatakan virus selalu hidup berkembang biak. Fakta itu membuatnya meminta masyarakat pasrah lantaran mereka sudah pasti tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah atau menghambat terjadinya mutasi sebuah virus.
Maka, Syahrizal mengimbau seluruh pihak untuk tidak khawatir ataupun panik mengenai hal tersebut. “Ini tanpa perlu khawatir atau panik, dan tidak ada yang bisa kita lakukan,” ungkap Syahrizal.
Sebelumnya, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menyebut jika jenis strain D614G itu memang menular 10 kali lebih cepat. Namun, mereka mengklaim jika mutasi virus tersebut juga memiliki gejala yang lebih ringan.
Mengenai pernyataan tersebut, Syahrizal mengaku sama sekali tidak bisa memastikan hal tersebut. Pasalnya, klaim itu masih membutuhkan penelitian lebih jauh lagi.
Sebagai seorang epidemiolog, Syahrizal sama sekali tidak melihat adanya hubungan peningkatan kasus COVID-19 yang terdeteksi di Indonesia karena perbedaan jenis strain virus yang menginfeksi. Namun, hal itu karena banyak atau sedikitnya pemeriksaan spesimen virus corona di masyarakat.
”Jadi kalau peningkatan kasus saat ini meningkat, apakah karena mutasi itu saya kira tidak,” papar Syahrizal. “Karena memang situasi saat ini pemeriksaan spesimen masih terbatas.”
”Eijkman hanya menemukan strain virus yang kemungkinan menular lebih cepat, tapi tidak kemudian membuat seluruh strain yang mendominasi adalah virus itu kan? Tidak,” sambungnya. “Saya kira tidak sejauh itu.”
(wk/lian)