Dikhawatirkan Tak Efisien Tangani Pandemi, Uji Klinis Vaksin Sputnik V Tunjukkan Hasil Begini
Reuters/Bing Guan
Health

Rusia menggelar uji klinis terhadap vaksin 'Sputnik V' miliknya yang sempat menuai kekhawatiran beberapa ilmuwan. Belakangan terungkap hasil uji klinis dari vaksin tersebut.

WowKeren - Beberapa waktu lalu ilmuwan mengungkapkan kekhawatiran vaksin Corona "Sputnik V" buatan Rusia tak efektif atasi pandemi. Padahal Rusia sendiri sudah mengklaim vaksin siap diedarkan sebelum akhir tahun ini.

Kekinian Sputnik V pun sedang dalam fase uji klinis, yang belakangan sudah terungkap hasilnya seperti apa. Rupanya menurut peneliti, tak ada efek samping negatif besar yang terdeteksi dari uji klinis tersebut, seperti dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet, Jumat (4/9).

Dokter yang terlibat dalam uji coba melakukan dua studi fase sekaligus, yakni I dan II, secara terbuka serta tidak acak. Bertempat di sebuah rumah sakit yang tak diungkap namanya, sebanyak 76 sukarelawan sehat berusia 18 sampai 60 tahun dilibatkan.

"Dua uji coba 42 hari, termasuk 38 orang dewasa yang sehat, tidak menemukan efek samping yang serius di antara peserta, dan memastikan bahwa kandidat vaksin memperoleh respons antibodi," jelas peneliti dalam jurnalnya, dilansir CNBC, Sabtu (5/9). Peneliti juga memastikan formulasi dari vaksin yang diuji aman dan dapat ditoleransi dengan baik.


Kendati demikian, peneliti akan tetap memantau kesehatan para sukarelawan yang terlibat dalam uji klinis "kilat" ini. Hal ini untuk menetapkan keamanan jangka panjang dan efektivitas vaksin demi mencegah infeksi COVID-19 di masa depan.

Publikasi ini sekaligus mematahkan keraguan para ilmuwan terhadap vaksin Sputnik V. Sebab para ilmuwan menyoroti tak adanya publikasi transparan soal penelitian serta uji klinis vaksin yang menggunakan bahan dasar Adenovirus itu.

"Kami memiliki banyak minat pada vaksin Rusia," ujar Kiriil Dmitriev, Kepala Dana Kekayaan Kedaulatan Rusia (RDIF). "(Dengan) publikasi di Lancet, yang merupakan salah satu majalah utama Barat tentang kedokteran sangat penting untuk berbagi informasi dengan dunia."

"Hasilnya sangat bagus," imbuhnya. "Tetapi pada dasarnya penelitian menunjukkan ada respon antibodi dan kekebalan sel yang sangat kuat."

Pada kesempatan itu, Dmitriev juga menegaskan pihaknya sedang melakukan 40 ribu uji klinis yang sudah dimulai sejak akhir Agustus 2020 kemarin. "Tidak hanya tersedia di Rusia, tetapi juga di negara-negara utama lainnya sekitar November," tambahnya, kemudian menyebutkan beberapa negara lain yang siap menjalankan uji klinis ini seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, sampai Filipina.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait