Pada Kamis (10/9) kemarin, Sutarman yang merupakan pendiri setelah pemimpin Paguyuban Tunggal Rahayu yang mengubah lambang Garuda Pancasila telah diperiksa oleh Satreskrim Polres Garut.
- Nidya Putri
- Jumat, 11 September 2020 - 13:08 WIB
WowKeren - Warga Kabupaten Garut beberapa waktu terakhir dihebohkan dengan kemunculan Paguyuban Tunggal Rahayu yang mengubah lambang Garuda Pancasila. Kemunculan Paguyuban Tunggal Rahayu tersebut pertama kali diketahui saat sejumlah orang yang mengaku sebagai anggotanya melapor ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Garut.
Mereka meminta izin dan legalitas atas paguyuban tersebut. "Jadi, beberapa waktu lalu memang sempat datang ke kita mengajukan izin terkait legalitasnya," ucap Kakesbangpol Garut Wahyudijaya, Selasa (8/9).
Saat menerima perwakilan organisasi tersebut, Wahyu mengaku pihaknya merasa ada kejanggalan. Pasalnya, di dalam dokumen yang diterimanya terlihat lambang organisasi yang diketahui sangat identik dengan lambang Garuda Pancasila. Hanya saja, kepala burung Garuda dalam lambang tersebut menghadap ke depan.
Paguyuban Tunggal Rahayu sendiri rupanya dipimpin oleh seorang pria bernama Sutarman. Pada Kamis (10/9) kemarin, Sutarman telah diperiksa oleh Satreskrim Polres Garut.
Di sela-sela proses pemeriksaan, Sutarman sempat diwawancarai wartawan. Dalam kesempatan tersebut, ia menjawab pertanyaan seputar perubahan lambang Garuda Pancasila hingga maksud dan tujuannya mencetak uang sendiri.
Namun, jawaban yang dilontarkan Sutarman terhadap pertanyaan terdengar aneh dan kacau. "Ya itu di-print-an. Untuk membangkitkan sejarah. Kalau uang yang seratus, tidak pernah saya cetak. Satu lembar pun saya tidak pernah mengambil yang dipakai oleh pemerintah itu. Enggak pernah itu. Sebab itu masuknya penipuan nanti," katanya saat ditanya perihal uang cetakannya.
Tak hanya itu, Sutarman juga sempat mengaku memiliki nama Prof Dr. Ir. H Cakraningrat, SH. Namun, ketika ditanya perihal kebenaran gelar tersebut, lagi-lagi jawabannya mengacau.
Dia mengaku mendapat empat gelar akademik tersebut melalui proses kuliah di alam. Dia juga mengaku diperintah untuk kuliah di alam oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
"Saya sekolah dari.....kalau secara lahiriyyah secara terbuka keluaran aliyyah. (tahun) 96 dikuliahkan secara kuliah kerja nyata oleh orang tua daripada orang tua perintis NKRI," katanya. "Jadi saya kuliah di alam bukan di universitas. Dari yang memegang amanat dan wasiat,perintis NKRI termasuk Bung Karno, Pak Hatta, termasuk banyak lah."
(wk/nidy)