Wiku mengatakan jika penghormatan kepada seorang pejabat sudah menjadi budaya dan protokoler di Indonesia. Namun upacara penghormatan harus dilakukan dengan hati-hati.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 18 September 2020 - 11:22 WIB
WowKeren - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menuai kritik usai membawa Jenazah Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah ke Balai Kota pada Rabu (16/9). Saefullah meninggal usai positif terpapar virus corona (COVID-19).
Adapun hal itu untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Saefullah. Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito turut menanggapi kritikan ini.
Menurutnya, tidak masalah hal itu dilakukan. Sebab, jenazah sendiri tidak diturunkan dari mobil ambulans.
"Harusnya tidak apa-apa tidak diturunkan," kata Wiku, Kamis (17/9). "Karena kan memang adanya di dalam ambulans dan di dalam peti yang sudah melalui seluruh prosesnya itu. Sebenarnya tidak apa-apa."
Adapun proses pemulasaran jenazah yang dimaksud Wiku adalah menggunakan protokol COVID-19 dengan dibungkus plastik. jenazah kemudian dimasukkan ke dalam peti dan harus segera dimakamkan. Wiku menegaskan jenazah tetap harus segera dimakamkan usai upacara penghormatan.
Sekali lagi ia menekankan, selama tidak terjadi kontak dengan jenazah seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kendati demikian, ia mengingatkan agar perjalanan atau jeda waktu sebelum jenazah dimakamkan tidak terlalu lama. Sebab risiko sekecil apapun pasti ada.
"Cuma jenazahnya juga jangan terlalu lama menuju perjalanan atau waktu untuk dimakamkan," ujarnya melanjutkan," tutur Wiku. "Memang pemakaman itu harus segera, harus dilakukan dengan segera supaya tidak terjadi mungkin potensi kebocoran atau apapun. Risiko itu selalu ada saja, kita harus menghindari itu, makanya harus cepat dimakamkan."
Wiku mengatakan jika penghormatan kepada seorang pejabat sudah menjadi budaya dan protokoler di Indonesia. Namun upacara penghormatan harus dilakukan dengan hati-hati.
"Karena itu kan ini konflik antara tata aturan dengan upaya untuk menjaga jangan sampai terjadi penularan," ungkap Wiku. "Gabungan antara penghormatan sama mencegah risiko penularan itu betul-betul harus ketat."
(wk/zodi)