Satgas COVID-19 Tegaskan 4 Hal Penting Ini Terkait Kondisi Corona Di Indonesia
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 membeberkan mengenai kondisi penyebaran virus corona di Indonesia sekarang yang masih belum terkendali, tegaskan mengenai 4 hal penting ini.

WowKeren - Kasus virus corona di Tanah Air terus meningkat tajam setiap harinya. Tercatat, Indonesia dalam beberapa minggu terakhir kerap memecahkan rekor tambahan lebih dari 3.000 kasus per hari. Bahkan, Indonesia sempat menembus lebih dari 4.000 kasus COVID-19 hanya dalam waktu 24 jam pada Sabtu (19/9) lalu.

Berdasarkan data covid19.go.id, virus corona telah menginfeksi 244.676 orang di Indonesia hingga Senin (21/9) siang. Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito lantas mengungkapkan berbagai kendala yang membuat pandemi di Indonesia masih juga belum terkendali.

Prof Wiku lantas mengungkapkan berbagai hal mengenai situasi pandemi virus corona yang sudah berjalan 7 bulan di Tanah Air. Ia memberikan pesan hingga menegaskan 4 poin penting terkait situasi penyebaran COVID-19. Berikut poin-poin dari Satgas:

1. Warga Diminta Waspada

Wiku menjelaskan kondisi penyebaran virus corona di Indonesia saat ini adalah fluktuatif, yakni masih naik dan turun tidak menentu. Hal ini dibuktikan dengan data kesembuhan hingga tambahan kasus COVID-19 di Indonesia.

Oleh sebab itu, Wiku meminta masyarakat tetap waspada di tengah situasi tidak pasti ini. Ia mencontohkan meskipun suatu daerah sudah dinyatakan bebas dari zona merah, namun masih ada kemungkinan kasus virus corona kembali naik jika masyarakat tidak waspada dan mematuhi protokol kesehatan.

"Kalau kita lihat dari kesembuhan, sudah naik, sudah 70,98 persen dan September mulai turun, nah ini tanda-tanda yang tidak baik, karena kita harus dorong terus," kata Prof Wiku seperti dilansir dari Kumparan, Senin (21/9). "Makanya kita enggak boleh lengah karena pandemi ini masih lama. Jadi kondisinya fluktuatif dan bisa saja kita bisa lama-lama fatigue, lelah. Maka dari itu kita harus selalu vigilant, waspada."

2. Positivity Rate

Wiku melaporkan positivity rate atau persentase orang yang memiliki hasil positif virus corona di Indonesia. Saat ini, positivity rate di Indonesia jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berjumlah 5 persen, sedangkan Tanah Air 14,2 persen.

Tingginya persentase kasus positif tersebut membuat masyarakat harus semakin waspada terkait potensi tertular virus asal Wuhan tersebut. Wiku menjelaskan jika biasanya saat testing ditingkatkan, maka posoitivity rate akan menurun. Namun, hal berbeda terjadi di Indonesia lantaran tes PCR meningkat tetapi pasien positif corona juga melonjak.


"Ini tidak boleh, ini harus ditekan betul supaya kasus aktifnya ini betul-betul turun terus sehingga testing-nya makin banyak, yang terlaporkan makin banyak," jelas Wiku. "Sekarang itu positivity rate-nya itu kalau enggak salah hari ini 14,2 persen. Harusnya di bawah 5 persen."

"Jadi targetnya gini, dites yang banyak, yang positif sedikit. Lah ini yang dites banyak, positifnya juga ikut naik, berarti penularannya kan masih tinggi," sambungnya. "Ini yang harus dilihat per kabupaten kota. Laporannya harus semakin baik untuk menunjukkan kondisinya dan harus segera ditangani."

3. Polemik Biaya Rumah Sakit Rujukan Corona

Curhatan pasien virus corona asal Tangerang Selatan yang bernama Loki baru-baru ini mendapatkan perhatian serius masyarakat. Pasalnya, Loki mengaku jika dirinya diminta menalangi biaya perawatan COVID-19 oleh pihak rumah sakit sebesar Rp584 juta. Pihak RS mengatakan jika biaya tersebut nanti akan diganti oleh pemerintah.

Menanggapi hal tersebut, Wiku mengatakan jika seluruh pembiayaan pasien virus corona memang ditanggung oleh pemerintah. "Untuk RS Rujukan ditanggung pemerintah," kata Wiku.

Namun, Wiku menegaskan jika klaim ke Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk mengajukan klaim ganti rugi pembiayaan pasien virus corona merupakan tanggung jawab pihak rumah sakit. Proses ini meliputi kirim email, verifikasi oleh BPJS Kesehatan, hingga dana dari anggaran Kemenkes cair. Oleh sebab itu, tidak benar jika pasien diharuskan menalangi biaya terlebih dahulu. "Hal tersebut harus dibereskan," tegas Wiku.

4. Data Pasien COVID-19

Data pasien virus corona di Indonesia mendapatkan sorotan setelah dinilai tidak sinkron antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Adapun daerah-daerah yang tidak memiliki data yang sama berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Beberapa daerah, terutama Semarang, Jateng, jatim, masih saja ada data yang tidak sinkron antara data dengan daerah dengan pusat," papar Wiku. "Karena sistem pengumpulan datanya sendiri berbeda dan tidak jadi satu."

Situasi ini diakui Wiku membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) maupun Dinkes mengalami kesulitan untuk melakukan kontak tracing pasien COVID-19. Oleh sebab itu, kini pemerintah masih berusaha untuk mengembangkan satu kesatuan sistem di seluruh daerah sehingga bisa mempermudah pengambilan kebijakan.

"Sehingga deployment support bisa dilakukan dengan baik, dan dari waktu ke waktu sudah mulai membaik," terang Wiku. "Ini betul-betul harus diamati oleh seluruh rakyat Indonesia dan Pemda. Kalau ada kasus segera laporkan. Semakin bagus datanya, semakin bagus navigasinya menanganinya."

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts