Potensi Tsunami 20 Meter, Simak Panduan Evakuasi Di Tengah Pandemi Corona
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Indonesia berpotensi dihantam tsunami setinggi 20 meter. BMKG langsung memberikan panduan evakuasi di tengah pandemi corona sebagai langkah antisipasi.

WowKeren - Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini merilis sebuah riset yang memaparkan tentang potensi tsunami 20 meter di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung mengeluarkan panduan evakuasi sebagai langkah antisipasi dalam menghadapi ancaman tsunami.

Pedoman evakuasi ini juga telah disesuaikan dengan situasi Indonesia yang sedang dihadapkan dengan pandemi virus corona. Pasalnya, evakuasi bencana alam biasanya akan membuat orang cenderung berdesak-desakan hingga tempat yang terbatas. Padahal demi mencegah penyebaran virus corona, physical distancing harus diterapkan.

”Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bila melakukan evakuasi dalam kondisi COVID-19 di mana orang harus menjaga jarak (physical distancing),” tulis BMKG di laman resminya pada Selasa (29/9). “Keadaan yang berdesakan saat berada di tempat evakuasi bisa menyebabkan tempat tersebut menjadi pusat infeksi virus corona.”

“Dalam melakukan evakuasi mandiri, sebisa mungkin masyarakat tetap memperhatikan jaga jarak fisik (physical distancing),” sambung BMKG. “Menggunakan masker, dan harus mengikuti kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di daerah masing masing (khususnya bagi daerah yang menerapkan PSBB).”

Berikut merupakan panduan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi tsunami di tengah pandemi virus corona:

1. Peninjauan lokasi rumah sakit

Melakukan evaluasi apakah rumah sakit yang menangani pasien COVID-19 berada di daerah rendaman tsunami atau tidak. Jika demikian, agar mempertimbangkan dipindahkan ke rumah sakit lain yang tahan gempa dan jauh dari kemungkinan rendaman tsunami.

2. Penyiapan TES dan TEA


Kapasitas TES dan TEA yang sudah ditentukan harus ditinjau kembali agar masyarakat tetap bisa menerapkan jaga jarak. Bila diperlukan, TES dan TEA diperbanyak dan dilakukan desinfeksi secara rutin sebelum terjadi bencana.

TES dan TEA yang ditambahkan harus berlokasi di daerah aman dari ancaman tsunami dan dapat memanfaatkan tempat yang saat ini kosong dikarenakan COVID-19. Diantaranya adalah sekolah, asrama mahasiswa yang saat ini diliburkan, perkantoran dimana pegawai bekerja dari rumah, wisma pemerintah yang kosong, hotel kosong karena tidak ada wisatawan, dan lain sebagainya.

Selain itu, BPBD dan pemerintah daerah serta masyarakat harus menyiapkan lokasi pengungsian. Lokasi pengungsian atau evakuasi ini juga harus menyediakan sarana kebersihan seperti air bersih, peralatan cuci tangan, sabun dan/atau hand sanitizer.

3. Sarana, prasarana, dan protokol pekerja sosial

BPBD bersama pemerintah daerah dan masyarakat perlu menyiapkan sarana, prasarana, dan protokol agar pekerja sosial yang akan memberikan dukungan evakuasi (sebisa mungkin relawan dari masyarakat) tetap terproteksi. Caranya dengan menyediakan cadangan APD yang dipakai saat membantu evakuasi dan termometer sebagai bagian dari peralatan P3K.

4. Rencana evakuasi dan protokol kesehatan

BPBD perlu menyiapkan rencana evakuasi dan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 bagi masyarakat. Masyarakat secara umum diharapkan tetap memastikan menjaga jarak (physical distancing), menggunakan masker, dan menjaga kebersihan diri dan sekitarnya pada saat evakuasi.

Oleh sebab itu, BPBD diminta terus melakukan sosialisasi terkait pentingnya protokol kesehatan di tengah bencana sejak saat ini sebelum terjadi tsunami. Sementara untuk penggunaan masker tidak perlu menggunakan masker medis, bisa menggunakan masker kain yang dibuat sendiri.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts