Ternyata Tak Semua Pasien COVID-19 Bisa Pakai Remdesivir Karena Efek Samping Ini
Nasional

Kalbe Farma mulai mengedarkan obat remdesivir untuk mengobati pasien COVID-19 dengan merek dagang Covifor. Namun ternyata tidak semua pasien bisa menggunakan obat ini.

WowKeren - PT Kalbe Farma Tbk., secara resmi mengimpor obat jenis remdesivir produksi India untuk mengobati pasien COVID-19 dalam negeri. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun sudah memberikan restunya terhadap penggunaan senyawa tersebut namun dengan ketentuan utama hanya sebagai obat darurat.

Karena sifatnya sebagai obat darurat, maka tidak semua pasien COVID-19 bisa menggunakan remdesivir dengan merek dagang Covifor itu. Dokter spesialis paru-paru dari RSUP Persahabatan, Erlina Burhan, menyatakan bahwa remdesivir hanya akan diberikan kepada pasien COVID-19 dengan gejala berat.

Namun selain bergejala berat, rupanya ada parameter lain yang mesti dipenuhi oleh pasien yang berhak menerima remdesivir ini. Yakni pasien dengan indikasi sakit ginjal atau liver karena berkaitan dengan efek sampingnya.

"Dalam uji coba itu, kita akan mengeluarkan pasien-pasien yang juga memiliki masalah sakit liver atau sakit ginjal," ujar Erlina. Uji coba yang dimaksud Erlina adalah 25 pasien COVID-19 di RSUP Persahabatan yang akan menerima injeksi Covifor sebelum obat itu diedarkan lebih luas di fasilitas-fasilitas kesehatan Indonesia.


Sebagai informasi, RSUP Persahabatan akan terlebih dahulu memberikan dosis remdesivir kepada 25 pasien COVID-19 yang sudah terpilih sesuai parameter idealnya sebagai uji coba. Beberapa parameter yang dimaksud adalah bergejala berat dan tidak memiliki riwayat penyakit ginjal atau liver.

Selain itu, pasiennya juga harus berusia di atas 18 tahun dengan kadar saturasi oksigen dalam darah di bawah 94 persen. Sedangkan yang terakhir, sang pasien harus sedang menjalani ventilator mekanik.

"Remdesivir diberikan melalui infus. Hari pertama 200 miligram, hari berikutnya bisa sampai 5-10 hari diberikan sebanyak 100 miligram," terang Erlina yang juga Anggota Satgas Waspada dan Siaga NcoV PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

"Ini diinfuskan bersama NaCl 0,9 persen," imbuh Erlina, dilansir dari Kompas, Jumat (2/10). "Kita berharap, remdesivir akan memberikan efektivitas yang baik dan juga aman untuk pasien COVID-19."

Erlina menuturkan, remdesivir memang diberikan dalam konteks darurat untuk pasien COVID-19 dengan gejala berat. Pasalnya Avigan, yang selama ini efektif mengobati pasien COVID-19 dengan gejala ringan dan sedang, tidak menunjukkan efektivitas yang sama terhadap pasien dengan gejala berat.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait