Kasus langka baru-baru ini terjadi di dunia medis, dimana otak dari seorang pasien perempuan asal Australia ditemukan penuh dengan larva cacing pita. Apa penyebabnya?
- Ruth Meliana
- Rabu, 07 Oktober 2020 - 12:15 WIB
WowKeren - Dunia medis baru saja dikejutkan dengan sebuah kasus langka yang dialami oleh seorang perempuan asal Australia. Kasus medis ini berupa kondisi otak wanita tersebut yang rupanya dipenuhi dengan larva cacing pita.
Dilansir dari Fox News, temuan kasus langka ini telah dimasukkan dokter dalam The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. Rupanya, temuan ini diawali dengan keluhan wanita tersebut yang sering merasakan sakit kepala yang tak tertahankan. Sakit kepala tersebut dialami setidaknya dua hingga tiga kali dalam sebulan.
Selain sakit kepala, perempuan ini juga mengalami gangguan penglihatan. Ia kerap mengandalkan obat penghilang rasa sakit. Namun karena sakitnya tak kunjung sembuh, wanita ini memutuskan untuk mencari pertolongan medis lantaran penglihatannya juga semakin memburuk.
Dokter kemudian melakukan pemindaian MRI dan menemukan benjolan dalam otak wanita ini yang diyakini abses otak atau tumor. Dokter ini kemudian langsung melakukan operasi untuk menghilangkan lesi otak. Tak disangka saat operasi, benjolan yang mirip kista tersebut rupanya penuh dengan larva cacing pita.
Beruntung setelah operasi, perempuan yang bekerja sebagai barista ini sama sekali tidak mengalami infeksi maupun perawatan lebih lanjut. Dokter menilai jika wanita ini masuk dalam kategori risiko rendah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan jika kasus tersebut biasa disebut dengan neurocysticercosis. Penyakit itu berasal dari parasit yang terjadi setelah seseorang secara tidak sengaja menelan telur taenia solium (cacing pita babi). Selain itu, penularan telur cacing pita itu biasa terjadi akibat makanan yang dikonsumsi kurang matang.
”Manusia terinfeksi setelah mengonsumsi makanan yang kurang matang,” kata WHO seperti dilansir dari Fox News, Rabu (7/10). “Terutama daging babi,atau air yang terkontaminasi telur cacing pita, atau melalui praktik kebersihan yang buruk.”
”Ketika larva menumpuk di sistem saraf pusat, otot, kulit dan mata, hal itu menyebabkan neurocysticercosis ,” sambung WHO. “Bentuk paling parah dari penyakit dan penyebab umum kejang di seluruh dunia.”
Sementara itu, penulis penelitian ini dalam The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene menjelaskan lebih lanjut mengenai penyebabnya. Kasus ini biasa banyak terjadi di wilayah endemik atau ditularkan oleh orang-orang yang baru saja mengunjungi daerah tersebut.
”Kasus Australia yang dilaporkan (biasanya) terjadi pada imigran atau penduduk yang kembali, yang telah melakukan perjalanan ke daerah endemik,” jelas peneliti. “Kasus ini telah dicatat di wilayah non endemik lainnya di dunia, termasuk laporan yang sering dirujuk dalam komunitas Yahudi ortodoks di New York City dan juga di negara-negara Timur Tengah, di mana konsumsi daging babi dilarang karena alasan agama.”
”Pekerjaan pasien sebagai barista memang memerlukan kontak yang berkelanjutan dengan orang-orang dari berbagai wilayah geografis,” lanjut peneliti. “Tetapi ini tidak dapat dibedakan dari banyak pemuda Australia lainnya yang bekerja di industri perhotelan.”
(wk/lian)