Waspada Fenomena La Nina Bisa Buat Harga Pangan 'Meroket', Ini Penjelasannya
Nasional

Pandemi virus corona (COVID-19) memang telah berdampak bagi perekonomian Indonesia. Namun, fenomena La Nina juga dapat membuat harga pangan di Indonesia mengalami kenaikan. Begini penjelasannya.

WowKeren - Presiden Joko Widodo telah memberikan peringatan kepada jajarannya untuk bersiap menghadapi fenomena La Nina. Fenomena tersebut rupanya tidak hanya meningkatkan risiko bencana alam di Indonesia, namun juga akan membuat harga pangan mengalami kenaikan. Hal ini seolah dapat memperparah situasi di Indonesia yang telah dihantam pandemi virus corona.

Dilansir dari CNBCIndonesia, kenaikan harga pangan tidak terlepas dari komoditas pertanian. Fenomena La Nina dinilai dapat mempengaruhi faktor pertanian dalam mengerek harga komoditas pangan di Indonesia. Hal ini menunjukkan jika kenaikan harga pangan paling sering dipicu dari segi suplai.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan jika La Nina adalah sebuah fenomena iklim yang menyebabkan curah hujan tinggi di berbagai wilayah tropis Pasifik. Curah hujan yang tinggi sendiri dapat memiliki dampak yang positif maupun negatif terhadap komoditas pertanian.

Sebagai contoh jika curah hujan tinggi terjadi setelah periode kekeringan, maka situasi tersebut dapat membantu mencukupi kebutuhan air di sektor pertanian. Sebaliknya jika curah hujan berlebihan hingga menyebabkan banjir, maka terancam gagal panen hingga menyebabkan produktivitas dan pasokan pangan menurun. Hal ini secara otomatis akan membuat harga pangan menjadi naik.


Fenomena La Nina di Indonesia sendiri pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. La Nina yang biasa muncul dari bulan Oktober hingga Januari kerap menyebabkan bencana banjir di sejumlah wilayah Tanah Air.

Berkaca pada pengalaman sebelumnya, La Nina telah memicu gejolak harga komoditas pertanian. Adapun harga pangan berubah-ubah dari sebelum, saat, hingga sesudah fenomena La Nina terjadi.

Salah satu komoditas pangan yang jalur distribusinya tidak efisien adalah bawang merah dan cabai merah. Karena itu, kedua bahan pangan ini cenderung memiliki margin perdagangan dan pengangkutan yang tinggi. Artinya, harga dari produsen ke konsumen tingkat akhir memiliki perbedaan yang kontras tingginya.

Situasi terburuk yang bisa terjadi akibat La Nina adalah pasokan bahan makanan terus tergerus akibat gagal panen. Akibatnya, stok pangan banyak yang rusak dan membusuk sehingga membuat harga kebutuhan sehari-hari ini meroket.

Kondisi tersebut diprediksi akan menurunkan daya beli masyarakat yang pada dasarnya sudah tertekan. Kelompok masyarakat yang paling terdampak adalah mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, dimana jumlahnya mencapai 24 juta jiwa.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts