Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Turut 'Sentil' Proyek Jurassic Park Pulau Rinca
Nasional
Proyek Jurrasic Park di Pulau Komodo

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi yang membidangi masalah lingkungan dan konservasi turut buka suara terkait pembangunan proyek Jurassic Park di Taman Nasional Komodo, Pulau Rinca, NTT.

WowKeren - Proyek pembangunan wisata Jurassic Park di Taman Nasional Komodo, Pulau Rinca, NTT, hingga saat ini masih menjadi sorotan. Tak jarang berbagai kritikan juga diluncurkan lantaran pembangunan proyek tersebut dinilai mengganggu habitat hidup satwa khas Indonesia tersebut.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi yang membidangi masalah lingkungan dan konservasi bahkan meminta Pemprov Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk tidak mengusik habitat komodo di Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat. Pasalnya, komodo di wilayah itu sudah menjadi ikon daerah dan harus dilindungi.

Dedi mengatakan, komodo di pulau itu merupakan habitat asli dan mestinya menjadi prioritas untuk dilindungi. Sementara industri pariwisata hanya mengambil manfaat dari habitat itu.

"Habitat aslinya itu adalah komodo. Dengan demikian, yang benar-benar harus dilindungi ya komodo-nya," kata Dedi, Selasa (27/10). "Pemerintah harus fokus pada perlindungan komodo."


Menurutnya, pengembangan industri pariwisata di kawasan Taman Nasional Komodo jangan sampai mengganggu habitat asilnya yaitu binatang komodo. Sebab, jika komodo terganggu maka dapat mempengaruhi proses reproduksi satwa khas Indonesia itu akan terganggu sehingga terancam punah.

Tak hanya itu, kemungkinan buruk yang terjadi nantinya pulau tersebut malah dihuni oleh manusia buakn lagi komodo. "Jangan sampai Pulau Komodo berubah jadi pulau Mang Dodo karena kebanyakan malah dihuni manusia. Sementara habitat aslinya tersingkir," tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu menyatakan pihaknya membangun Jurassic Park di Kawasan Taman Nasional Komodo sebagai bentuk dukungan terhadap gagasan Presiden Joko Widodo tentang pariwisata. Lokasinya berada di Pulau Rinca yang diperuntukkan untuk pariwisata umum.

Sementara di Pulau Komodo sendiri, Marius mengatakan tidak ada pembangunan pariwisata karena daerah itu masuk kawasan konservasi. "Jadi harus dibedakan antara Pulau Komodo sebagai daerah konservasi dan Pulau Rinca yang diperuntukan untuk mass tourism (pariwisata umum)," ujar Marius, Senin (26/10).

Sayangnya, rencana tersebut mendapat kritikan keras dari berbagai pihak. Akibatnya, pengelola Pulau Rinca pun memutuskan untuk menutup sementara kawasan pelestarian hewan sekaligus wisata itu.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts