Kemenkes menyebut Menkes Terawan diundang WHO karena dinilai sukses dalam menangani pandemi COVID-19. Namun, hal ini dibantah oleh epidemiolog yang membeberkan alasan sebenarnya.
- Ruth Meliana
- Jumat, 06 November 2020 - 12:50 WIB
WowKeren - Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto baru-baru ini kembali menjadi perbincangan publik setelah mendapatkan undangan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pasalnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan jika Terawan diundang WHO karena dinilai sukses menangani pandemi virus corona di Indonesia.
Pernyataan tersebut tentunya langsung menuai pro dan kontra. Apalagi, penyebaran virus corona di Tanah Air masih belum terkendali dan terus mencatatkan penambahan kasus yang signifikan setiap harinya.
Namun, ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman membantah pernyataan Kemenkes yang menyebut undangan WHO diberikan karena kesuksesan Terawan menangani pandemi. Ia membeberkan undangan tersebut hanyalah diskusi ilmiah seputar pandemi COVID-19 saja.
Dicky sendiri tidak sembarangan dalam mengatakan hal tersebut. Ia yang mengaku terlibat dalam dalam proses revisi regulasi kesehatan internasional (International Health Regulation/IHR) tahun 2005, menyebut undangan itu hanya sebagai wadah untuk bertukar pengalaman atau review atas penanganan negara dalam menghadapi pandemi virus corona.
"Jadi undangan itu hanya wadah sharing ilmiah antara WHO dengan negara yang berjuang melawan pandemi, berbagi pengalaman berharganya dalam pengendalian pandemi," jelas Dicky seperti dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (5/11). "Bisa saja negara itu berhasil, gagal, atau masih struggle."
Lebih lanjut Dicky menjelaskan pengalamannya mengikuti IHR pada tahun 2005, dimana acara ini sama seperti undangan WHO ke Terawan. Kala itu, IHR menghasilkan serangkaian tinjauan setelah-tindakan (after action review/AAR) terhadap pandemi SARS pada 2003.
Serangkain tinjauan setelah-tindakan itu dilakukan agar negara yang terdampak pandemi dapat melakukan evaluasi mandiri. Kemudian ada lagi tinjauan intra-tindakan (intra-action review/IAR) untuk menangani pandemi COVID-19. Upaya ini dilakukan karena pandemi virus corona terancam berlangsung lama dan memakan banyak korban jiwa.
"Biasanya setelah tiga bulan melakukan atau negara mencanangkan darurat bencana nasional," terang Dicky. "Maka dilakukan evaluasi terhadap program pengendaliannya dalam bentuk IHR yang difasilitasi WHO."
Hal serupa juga diungkapkan oleh epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono. Ia mengamini jika undangan WHO kepada Terawan itu hanya sebuah acara refleksi dan review hasil penanganan selama pandemi, bukan karena kesuksesan mengendalikan penyebaran COVID-19.
"Hanya acara refleksi, tidak ada indikasi sukses di situ. Apakah negara tersebut sudah berhasil mengimplementasikan IAR, bukan sudah berhasil menanggulangi pandemi," kata Pandu. "Review dari nasional respons. Jadi yang review dilakukan sendiri kan hebat, oleh karena itu ada pertemuan itu."
(wk/lian)