Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X angkat berbicara mengenai naiknya status aktivitas Gunung Merapi dari waspada ke siaga. Ini pesan HB X.
- Ruth Meliana
- Jumat, 06 November 2020 - 14:30 WIB
WowKeren - Balai Penyelidikan Dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah menaikkan status aktivitas Gunung Merapi dari level II (waspada) menjadi level III (siaga). Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X turut memberikan pesannya terkait situasi siaga Merapi.
Sultan HB X meminta warganya, khususnya warga yang tinggal di sekitar gunung untuk tidak panik dalam menyikapi laporan kenaikan status Gunung Merapi. Meski demikian, ia tetap berpesan kepada masyarakat untuk tidak mengendorkan kewaspadaan.
"Masyarakat, saya kira tidak perlu panik. Kan sudah hafal," kata Sultan HB X di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta seperti dilansir dari CNNIndonesia pada Kamis (5/11). "Masyarakat di Sleman, khususnya di sekitar Merapi. Saya kira mereka sudah paham."
Tak hanya itu, Sultan juga meminta warga Kabupaten Sleman, khususnya sebelah timur, selatan, maupun barat, dari Gunung Merapi memperhatikan status yang telah ditingkatkan dari waspada ke siaga, dan bersiap evakuasi jika status kembali naik. Ia berjanji akan segera mengeluarkan surat edaran dalam waktu dekat.
"Saya mohon yang jauh dari Merapi tidak usah panik dengan kenaikan status. Saya juga akan mengeluarkan edaran dan pemberitahuan hari ini," kata Raja Keraton Yogyakarta ini. "Mungkin besok (Jumat, 6/11)."
"Harapan saya, pemerintah daerah Kabupaten Sleman juga mempersiapkan diri untuk jalur evakuasi, untuk persiapan siaga," sambungnya. "Saya kira Pak Bupati (Sleman) sudah tahu apa yang harus dilakukan."
Imbauan serupa juga diungkapkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia meminta warga Jateng untuk tidak panik dengan kenaikan status aktivitas vulkanik di Merapi. Warga setempat juga diminta untuk tetap waspada dan terus memantau kondisi terbaru Gunung Merapi.
"Warga tidak usah panik, tapi tetap waspada. Saya kira masyarakat terdekat pasti sudah sangat paham soal ini, hanya kita tinggal bersama-sama saling mengingatkan dan saling memantau," jelas Ganjar di Semarang, Kamis (6/11). "Siapkan alat transportasi dan barang berharga agar bisa dibawa ke tempat pengungsian jika terjadi erupsi."
"Kalau yang tidak ada 'EWS'-nya, maka yang sifatnya tradisional harus disiapkan. Saya minta seluruh aparatur pemerintahan sampai tingkat desa hingga RT/RW yang ada di sana untuk siaga membantu warganya," lanjutnya. "Saya minta tempat-tempat pengungsian sudah tersedia baik dengan menerapkan protokol kesehatan. Sebab, saat ini masih pandemi, jadi tempat pengungsian harus menerapkan jaga jarak."
(wk/lian)