Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai lonjakan kasus tak lepas dari masih banyaknya warga yang berkerumun di tengah pandemi.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 16 November 2020 - 08:03 WIB
WowKeren - Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman meminta pemerintah untuk tidak diskriminatif dalam menangani pandemi virus corona. Hal itu dikemukakan olehnya menyusul penambahan kasus di RI yang sempat pecah rekor lebih dari 5.000 per hari.
Menurutnya, lonjakan kasus tak lepas dari masih banyaknya warga yang berkerumun di tengah pandemi. Oleh sebab itu, baik pemerintah maupun tokoh publik seharusnya bisa bersikap tegas dalam menyikapi pelanggaran-pelanggaran yang berpotensi memperluas penyebaran virus. Beberapa aktivitas yang sangat berpotensi memicu kerumunan misalnya demo dan Pilkada.
"Pengendalian terhadap atau pembatasan terhadap keramaian massa itu juga tidak boleh tebang pilih," kata Dicky dilansir Kompas, Senin (16/11). "Harus tegas, jelas, harus siap. Tidak hanya melarang demo saja, dan lainnya, termasuk juga pilkada (pemilihan kepala daerah) itu dalam kategori keramaian ini."
Terutama Pilkada, Dicky menilai jika agenda ini rawan memicu terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia. Sehingga apabila Pilkada tetap dilanjutkan pada Desember mendatang maka ia khawatir ini akan menjadi bom bunuh diri lonjakan kasus.
"Kita akan mengalami puncak yang panjang," ujarnya melanjutkan. "Artinya, cepat atau lambat akan terjadi kematian yang tinggi dan tidak terhindarkan."
Imbas lonjakan kasus akan bisa dilihat mulai 2021 mendatang ketika semakin bertambah banyak setiap harinya. Terlebih lagi hingga kini Indonesia bahkan belum selesai menghadapi gelombang pertama pandemi.
Oleh sebab itu, kekhawatiran lainnya adalah potensi pandemi COVID-19 yang akan lebih lama menghantui Indonesia. "Artinya gelombang pertama COVID-19 di Indonesia ini belum selesai. Kurva kita terus meningkat. Kita masih jauh dari usai," terang Dicky.
Pada Sabtu (14/11) pekan lalu, pemerintah mencatat penambahan kasus baru COVID-19 sebanyak 5.272 setelah di hari sebelumnya mencatat rekor tertinggi sebanyak 5.444 kasus positif. Adapun kenaikan ini terjadi selang dua minggu setelah ramai libur panjang pada akhir Oktober lalu.
(wk/zodi)