Satgas Penanganan COVID-19 mencatat tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di Tower 6 dan 7 RSD Wisma Atlet naik hingga 21 persen.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 17 November 2020 - 16:06 WIB
WowKeren - Sejumlah kegiatan yang menyebabkan kerumunan belakangan ini membuat dokter di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet merasa was-was. Dokter spesialis paru-paru yang sudah lebih dari tujuh bulan bertugas di RSD COVID-19 Wisma Atlet, Efriadi, mengaku cukup khawatir soal kenaikan kasus corona yang terjadi pekan lalu.
"Kita melihat kasus sebelum Oktober kemarin sudah banyak penurunan tapi ketika liburan tiba ternyata kasus kian meningkat," ujar Efriadi dilansir CNN Indonesia pada Selasa (17/11). "Dan ini sangat menyulitkan kami yang bekerja."
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mencatat tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di Tower 6 dan 7 RSD Wisma Atlet naik hingga 21 persen. Sebelum masa libur panjang, tingkat hunian adalah 32 persen, sedangkan sekarang tingkat hunian telah mencapai 53,8 persen.
Sedangkan berdasarkan data media center RSD Wisma Atlet per Senin (16/11), sebanyak 1.569 pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dirawat di Tower 6 dan 7. Mereka terdiri dari 798 orang pria dan 771 orang wanita.
Kemudian keterisian flat isolasi mandiri Wisma Atlet di Tower 4 dan 5 juga meningkat, dari 17 persen menjadi 27 persen. Tercatat ada 859 pasien COVID-19 berstatus OTG (orang tanpa gejala) yang menempati Tower 4 dan 5. Dengan demikian, total ada 2.428 orang pasien positif COVID-19 yang dirawat di empat Tower RSD Wisma Atlet.
Efriadi pun mengkhawatirkan tingginya angka tersebut. Pasalnya, makin banyak pasien yang dirawat, maka risiko tenaga kesehatan turut tertular juga semakin tinggi.
"Kami tenaga kesehatan ini punya keluarga," ujar Efriadi. "Dan kami ingin nanti beraktivitas kembali dengan keluarga kami masing-masing."
Sementara itu, Doni Lukas yang merupakan rekan sejawat Efriadi mengungkapkan bahwa tenaga kesehatan merupakan garda terakhir penanganan COVID-19. Mereka menyayangkan sikap masyarakat yang masih saja melakukan kegiatan yang menimbulkan kerumunan.
"Jangan sia-siakan pengorbanan kami, tenaga kesehatan di sini, dengan mengadakan kerumunan atau mengadakan acara-acara yang tidak perlu," pungkas Doni. "Itu sangat menyusahkan bagi kami."
(wk/Bert)