Tingkat Pengangguran Jakarta Tertinggi, Anies Baswedan Bilang Begini
Nasional

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di DKI Jakarta yang mencapai 10,95 persen per Agustus 2020 bahkan berada di atas rata-rata nasional yang di level 7,07 persen.

WowKeren - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa DKI Jakarta memiliki tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia, yaitu mencapai 10,95 persen per Agustus 2020 lalu. Angka DKI tersebut berada di atas rata-rata nasional yang di level 7,07 persen.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur DKI Anies Baswedan pun buka suara. Anies mengakui bahwa tingkat pengangguran di Ibu Kota tinggi.

"Walaupun kita menghadapi situasi yang sulit karena ada unemployment rate yang cukup tinggi, lebih dari 10 persen, tapi di sisi lain pasokan kebutuhan pokok pasti hadir," jelas Anies pada Selasa (24/11). "Sehingga tidak menghasilkan keresahan, dan ini sudah dilakukan sejak April."

Menurut Anies, pemerintah pusat dan Pemprov DKI telah memasok bantuan sosial (bansos) secara rutin bagi 2,4 juta kepala keluarga di Ibu Kota. Dengan demikian, dua per tiga warga DKI telah mendapat pasokan bansos secara rutin.


"Ada 3,6 juta kepala keluarga di Jakarta, 2,4 juta mendapatkan bantuan sembako secara reguler dari pemerintah, baik Pemprov maupun Kemensos," ungkap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. "Yang terima 2/3 keluarga di Jakarta mendapatkan support rutin sembako. Inilah yang ikut menjaga stabilitas di Jakarta."

Lebih lanjut, Anies menyatakan bahwa apa yang telah diupayakan Pemprov demi menciptakan stabilitas di Jakarta selama ini tidak gratis. Melainkan semuanya membutuhkan anggaran yang cukup besar.

"Ini sebuah langkah prevensi untuk menghasilkan stabilitas. Jadi stabilitas itu tidak gratis, tapi costly," jelas Anies. "Tapi ini lah biaya yang harus kita lakukan supaya masyarakat di Jakarta survive."

Menurut Anies sendiri, upaya yang telah dilakukan Pemprov DKI untuk mendukung warganya menghadapi pandemi corona kini telah berjalan lancar. Terutama untuk warga yang bergantung pada pendapatan harian.

"Umumnya mereka yang menghadapi masalah adalah mereka yang tidak memiliki pendapatan dan saving. Sehingga ketika income-nya harian, kemudian perekonomiannya terganggu, maka siklus untuk mereka bisa beroperasi sebagai rumah itu terganggu," pungkas Anies. "Nah di situlah intervensi pemerintah, dengan data-data yang ada saat ini cukup baik. Sehingga sekarang ini berjalan dengan smooth."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts