Ganjar Pranowo Bongkar Fakta Penyebab Jateng 'Panen' Kasus COVID-19 Bak Jadi Pusat Wabah
Instagram/ganjar_pranowo
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Gubernur Jawa Tengah itu mengungkap alasan di balik 'ledakan' kasus COVID-19, terutama yang seharusnya masih aktif dirawat di rumah sakit. Begini penjelasan selengkapnya.

WowKeren - Bukan hanya DKI Jakarta, Jawa Tengah sekarang seolah menjadi episentrum wabah COVID-19 di Indonesia. Hal ini tampak dari peningkatan kasus aktif alias pasien-pasien COVID-19 yang memerlukan perawatan di rumah sakit.

Tentu menjadi pertanyaan besar, apa penyebab Jateng baru mengalami "ledakan" COVID-19 ketika provinsi-provinsi lain di Jawa sudah mulai "mereda", tentu saja ini mengecualikan Ibu Kota. Gubernur Ganjar Pranowo pun angkat bicara perihal lonjakan besar jumlah kasus tersebut.

Menurut Ganjar, kenaikan jumlah kasus juga akibat tambah gencarnya tes COVID-19 sampai melebihi target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Saat ini jumlah tes PCR di Jateng mencapai 1.416 orang per 1 juta penduduk setiap pekannya, melebihi target WHO sebanyak seribu orang.

"Bahwa ada peningkatan betul dan ada peningkatan tes kita juga betul," kata Ganjar di Semarang, Selasa (24/11). "Jadi kalau tes kita itu sudah melebihi dari target WHO sudah cukup tinggi."


"Misalnya saya sebutkan, pada minggu keempat Oktober tes PCR Jateng 625 per 1 juta penduduk, naik menjadi 809 per 1 juta penduduk pada minggu 1 November," imbuh Ganjar. "Dan sekarang mencapai 1.416 per 1 juta penduduk pada minggu ke-2 November."

Namun selain perihal kenaikan jumlah tes COVID-19 yang digelar, ada perbedaan data terkait angka kasus aktif di Jateng dan pusat. Data yang dihimpun Jateng lebih sedikit ketimbang yang dilaporkan di pusat, yang ternyata karena delay input data. Apa maksudnya?

"Makanya saya agak kaget itu karena kita katanya paling tinggi begitu, tapi kalau saya lihat datanya kok tidak sama begitu ya. Jadi kita coba cek ya karena ada angka yang disebutkan itu kita belum sampai ke sana," ujar Ganjar, dikutip dari Kompas, Rabu (25/11). "Setelah kita cek ternyata angka-angka itu angka-angka delay."

Politikus PDI Perjuangan itu pun menduga delay data akibat tidak satu sistemnya proses input data. "Padahal kalau mengisinya hanya satu di new all record system itu sebenarnya semua clear mestinya," pungkas Ganjar.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts