Satgas COVID-19 Soroti Munculnya Klaster Takziah di DKI Jakarta
Twitter/BNPB_Indonesia
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Anggota Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) COVID-19, Dewi Nur Aisyah, meminta agar masyarakat jangan sampai lengah dengan kegiatan apa pun yang berpotensi menimbulkan kerumunan.

WowKeren - Anggota Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) COVID-19, Dewi Nur Aisyah, mengungkapkan sejumlah klaster corona terkait keagamaan di DKI Jakarta. Hasilnya, ada 236 kasus positif COVID-19 di klaster rumah ibadah dan kegiatan keagamaan.

"Secara kumulatif sejak Mei hingga November untuk rumah ibadah dan kegiatan keagamaan ada 17 klaster," ungkap Dewi pada Rabu (25/11). "Dengan total orang positif sebanyak 236 orang."

Dewi lantas menyoroti munculnya klaster corona di kegiatan melayat orang meninggal alias takziah. Klaster takziah di Jakarta kini bahkan lebih banyak dibanding klaster tahlilan.

"Satu hal yang ingin saya highlight adalah kegiatan keagamaan seperti tahlilan dan takziah. Kalau dulu di awal-awal kasusnya lebih banyak kegiatan keagamaannya karena tahlilan, sekarang lebih banyak karena takziah. Jadi ketika ada orang meninggal, kemudian ada yang melayat, mungkin jaga jaraknya tidak diterapkan," ujar Dewi. "Di sini ditemukan 5 klaster yang ditemukan dari kegiatan takziah di DKI Jakarta. Sedangkan kegiatan tahlilannya hanya 2, dengan total jumlah kasus 69 kasus."


Sementara itu, ditemukan juga 4 klaster COVID-19 di lingkungan gereja dengan total 41 kasus positif. Dan 6 klaster COVID-19 di lingkungan masjid dengan total 126 kasus positif.

Kemudian ditemukan 4 klaster di Asrama Pendeta dengan total 155 kasus positif COVID-19. Dan juga ada 4 klaster di Pesantren dengan total 359 kasus positif COVID-19.

Satgas COVID-19

YouTube/BNPB Indonesia

Oleh sebab itu, Dewi meminta agar masyarakat jangan sampai lengah dengan kegiatan apa pun yang berpotensi menimbulkan kerumunan. Pasalnya, infeksi virus corona tidak pandang bulu.

"Ketika melaksanakan kegiatan ibadah seperti mengikuti pengajian, atau mungkin ada kegiatan melayat orang yang sudah meninggal, harus dipastikan protokol tetap diterapkan. Tidak bisa dengan kita merasa 'ah dia tetangga saya juga bukan meninggal karena COVID-19'. Ini tetap tidak boleh lengah," jelas Dewi. "Ini tidak pandang bulu. Ketika dilaksanakan jumlah orang bertemu dalam jumlah banyak protokol harus diterapkan sehingga bisa mencegah penularan."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts