Epidemiolog Sebut Tak Ada Klaster Corona di Kerumunan Petamburan, Anggota DPRD DKI Protes
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Selain itu, anggota DRPD DKI Jakarta Gilbert Simanjutak juga mengingatkan bahwa ekonomi tidak mungkin pulih jika pemerintah gagal mengendalikan virus corona (COVID-19).

WowKeren - Kerumunan simpatisan Habib Rizieq Syihab (HRS) di Petamburan, Jakarta Pusat, sempat menimbulkan kekhawatiran terjadinya lonjakan kasus virus corona (COVID-19). DKI Jakarta sendiri baru saja mengalami lonjakan kasus dan mencatatkan rekor 1.579 kasus dalam sehari pada Sabtu (21/11).

Namun, kerumunan HRS itu disebut Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono tidak menimbulkan klaster COVID-19. Pandu memaparkan bahwa data yang dimiliki FKM UI menunjukkan bahwa kenaikan kasus positif COVID-19 di Jakarta berasal dari klaster keluarga usai libur panjang 28 Oktober-1 November lalu.

Pernyataan sang epidemiolog lantas dikritik oleh anggota DRPD DKI Jakarta Gilbert Simanjutak. Menurut Gilbert, belum waktunya Pandu menyampaikan pernyataan seperti itu.


"Saya kira terlalu prematur mengatakan tidak ada klaster di Petamburan atau di mana," ujar Gilbert dilansir Tempo pada Rabu (25/11). Gilbert juga menyangsikan data yang diperolehnya dari pemerintah DKI yang menunjukkan peningkatan kasus COVID-19 dari klaster keluarga seusai libur panjang pada 28 Oktober-1 November.

"Karena dulu pun mereka (DKI) mengatakan kematian sekian, ternyata kematian digabung dengan kematian yang bukan COVID-19," ungkap Gilbert. Ia lantas mengingatkan bahwa ekonomi tidak mungkin pulih jika pemerintah gagal mengendalikan COVID-19.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga menilai ledakan yang terjadi saat ini disebabkan oleh libur panjang pada akhir Oktober 2020 kemarin, bukan karena kerumunan Petamburan. Senada, Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria juga mengaitkan kenaikan kasus COVID-19 di Ibu Kota dengan mobilitas masyarakat sepanjang libur panjang jelang awal November kemarin.

"Beberapa hari ini memang ada peningkatan penyebaran di DKI Jakarta, ini masih ada klaster," kata Riza di Balai Kota DKI, dikutip dari Kumparan. "Tertinggi klaster perumahan kemudian diikuti perkantoran, ini efek libur panjang."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts