Bak Kado, Metode untuk Rusak Virus 'Kembaran' HIV Sukses Ditemukan Jelang Peringatan Hari AIDS
Pixabay/Darwin Laganzon
Health
Hari AIDS Sedunia

Peneliti dari Temple University berhasil merancang 'gen editor' CRISPR yang terbukti mampu merusak DNA SIV. SIV sendiri merupakan virus 'saudara' HIV yang biasa menginfeksi primata non-manusia.

WowKeren - Penemuan besar sukses ditemukan nyaris bersamaan dengan peringatan Hari AIDS sedunia yang jatuh pada Selasa (1/12) hari ini. Pada Senin (30/11) kemarin, dikutip dari Science Daily, sekelompok peneliti dari Temple University Health System mengonfirmasi temuan metode untuk merusak virus SIV yang merupakan kerabat dekat dari HIV.

Sebagai informasi, Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyebab AIDS yang menginfeksi manusia. Virus ini merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan hingga kini belum ada metode pengobatan yang benar-benar mumpuni.

Sedangkan Simian Immunodeficiency Virus (SIV) adalah virus yang masih satu keluarga dengan HIV yang menyebabkan penyakit serupa AIDS di primata non-manusia. Dan untuk pertama kalinya peneliti berhasil merekayasa sebuah "alat khusus", yakni gen bertajuk CRISPR untuk "menggunting" virus tersebut sehingga tak bisa memperbanyak diri di dalam tubuh inang yang diinfeksinya.

"Untuk pertama kali kami bisa menunjukkan inokulasi tunggal 'gen editor' CRISPR, yang dibawa oleh adenovirus, dapat 'menggunting' genom SIV dari sel terinfeksi pada monyet rhesus macaca," ujar Kamel Khalili Ph.D., Direktur Pusat Komprehensif NeuroAIDS di Lewis Katz School of Medicine di Temple University. Maksudnya gen CRISPR itu berhasil merusak genom SIV yang sudah menginfeksi sel inang sehingga infeksi tidak berlanjut.

Dilansir dari jurnal yang dipublikasi secara daring di Nature Communications pada Jumat (27/11), gen yang dirancang tim Dr Khalili berhasil mencapai jaringan yang terinfeksi SIV. Dalam konteks infeksi HIV, jaringan ini biasanya menjadi tempat persembunyian virus tersebut, bahkan sampai bertahun-tahun tidak terdeteksi "polisi" alias sistem kekebalan tubuh.


SIV maupun HIV ini juga lepas dari jangkauan obat anti-retroviral (ARV) yang berfungsi menekan penggandaan virus. Jika ARV berhenti dikonsumsi, maka virus akan kembali mengganas dan memperbanyak diri.

"Monyet macaca terinfeksi SIV yang kami teliti adalah hewan uji yang ideal untuk menggambarkan infeksi HIV pada manusia," terang Dr. Khalili. Penelitian diawali dengan merancang gen CRISPR itu kemudian memasukkannya ke Adeno-Associated Virus 9 (AAV9) sebelum diinjeksikan ke hewan terinfeksi SIV.

Dan dalam perkembangan penelitian terlihat AAV9 dengan CRISPR yang dimasukkan ke tubuh hewan uji itu berhasil "membersihkan" genom SIV dari jaringan terinfeksi. "Proses itu berjalan dengan sangat efisien, menyingkirkan DNA SIV dari jaringan dan sel darah," beber Dr. Pietro Mancuso, salah satu penulis di publikasi ilmiah ini.

Temuan ini jelas menjadi hadiah saat peringatan Hari AIDS Sedunia, mengingat penyakit tersebut tak kunjung mendapatkan metode pengobatan yang mumpuni hingga kini. Dr. Andrew G MacLean menarget penelitian selanjutnya untuk melihat apakah metode ini efektif dalam jangka panjang atau tidak.

"Kami berharap bisa segera melakukan studi klinis terhadap manusia," pungkas Dr. Khalili. "Banyak orang yang sudah menderita akibat HIV hingga 40 tahun dan sekarang kita sudah semakin dekat dengan metode pengobatan yang mumpuni."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts