Bukan Tahun Depan, Eks Menkeu Chatib Basri Ramal Ekonomi RI Baru Bangkit 2022
Twitter/ChatibBasri
Nasional
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Ada 2 parameter utama yang menjadi dasar prediksi sang ekonom senior dengan indikatornya adalah investasi swasta. Begini penjelasan Chatib Basri selengkapnya.

WowKeren - Bukan cuma Indonesia, perekonomian global pun dibuat berantakan oleh wabah virus Corona. Namun sebuah prediksi kurang menyenangkan disampaikan oleh mantan Menteri Keuangan Chatib Basri terkait kondisi perekonomian Indonesia yang disebutnya bahkan belum pulih pada 2021 mendatang.

Ekonom senior ini memperkirakan investasi swasta belum masuk pada 2021 dengan 2 alasan. Yang pertama karena pemerintah masih menerapkan protokol kesehatan dalam mengendalikan pandemi COVID-19, sedangkan yang kedua karena permintaan pasar domestik dan ekspor masih sangat lemah.

"Akibat pandemi, sektor swasta tidak bisa beroperasi secara normal, sehingga kapasitas ekonomi tidak dapat dimanfaatkan secara utuh," ujar Chatib ketika menjadi pembicara di Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2020 New Normal, Rabu (2/12). "Maka ekonomi tidak akan pulih sepenuhnya tahun depan dan diperkirakan akan kembali normal tahun 2022."

Prediksi ini juga didasarkan pada dampak merembet perekonomian dunia seperti Tiongkok dan Eropa yang juga belum pulih sepenuhnya. Chatib berpendapat akan sulit bagi beberapa industri, terutama yang mengandalkan pengalaman konsumen seperti perhotelan, untuk mencapai break even poin alias titik impas.


"Ekspor Indonesia sangat bergantung dengan RRC dan RRC sangat bergantung dengan Eropa. Ekonomi Eropa diperkirakan tidak akan pulih lebih cepat dari tahun 2022," tutur Chatib, dilansir dari Kumparan, Kamis (3/12). "Maka sektor domestik yang harus dikuatkan untuk menopang perekonomian Indonesia."

Namun demikian, Chatib menilai kontraksi ekonomi yang dialami Indonesia masih tergolong wajar dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. "Dampak ini dinilai masih wajar jika dibandingkan negara lain Malaysia yang minus 6,4 persen dan Filipina minus 10 persen," terang Chatib.

Sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan ekonomi Indonesia masih dibayangi dengan beragam ketidakpastian pada 2021 mendatang. Hal ini pun diperburuk dengan kontraksi yang dialami pada tahun 2020 yakni di kisaran minus 1,5 sampai 3,3 persen.

Gangguan pada sektor ekonomi ini pun berkaitan dengan pandemi COVID-19 yang belum teratasi. Meski pada 2021 mendatang diperkirakan sudah ditemukan vaksin yang bisa membantu dalam pengendalian pandemi.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts