Keresahan Mahasiswa Jelang Pembukaan Kampus di Masa Pandemi Corona
Twitter/syasalthekid
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Diketahui, Kemendikbud memberikan kewenangan pada Pemerintah Daerah untuk memutuskan pembukaan sekolah dan perguruan tinggi mulai Januari 2021 tanpa memperhitungkan zonasi risiko COVID-19.

WowKeren - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengizinkan sekolah hingga perguruan tinggi untuk kembali menggelar pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021. Meski demikian, kebijakan ini justru menimbulkan kebimbangan bagi sejumlah mahasiswa, terutama bagi mereka yang merantau.

Seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta asal DKI Jakarta bernama Dimas mengaku telah kembali ke Ibu Kota usai perkuliahan digelar jarak jauh. Saat mendapat kabar bahwa kampus kemungkinan akan dibuka pada semester genap mendatang, Dimas mengaku bingung.

Di satu sisi, Dimas ingin segera masuk kampus karena kerap kesulitan memahami pembelajaran yang dilakukan via konferensi video. Namun di sisi lain, Dimas yang belum genap berusia 21 tahun masih membutuhkan surat izin orangtua untuk bisa kembali kuliah tatap muka. Ia khawatir orangtuanya tidak akan mengizinkan jika kondisi pandemi tak kunjung membaik.

"Aku merasa selama pembelajaran jarak jauh ini memang susah belajarnya, bisa dibilang gitu," ungkap Dimas dilansir CNN Indonesia pada Jumat (4/12). "Tapi kalau kasus COVID-nya masih nambah terus, belum tentu dibolehin juga."


Namun demikian, Dimas menilai bahwa kondisi pandemi di Yogyakarta kini lebih baik dibanding Jakarta. "Setahuku juga (kasus corona di) Yogya udah nggak sebanyak di Jakarta kan. Jadi mungkin mikirnya lebih aman di sana," jelas Dimas.

Sementara itu, mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya asal DKI Jakarta, Frida, memutuskan untuk tetap berkuliah secara online meski nanti kampusnya kembali dibuka. Frida mengaku tak dapat membayangkan jika dirinya harus sendirian merantau ke Surabaya dalam situasi pandemi seperti sekarang.

"Kalau aku kena COVID di kosan sendirian. Biasanya makanan beli pakai ojek, terus dimana? Aku diisolasi di kosan yang notabene banyak orang?" tutur Frida. "Pasti ibu kos juga khawatir dan ngejauhin aku."

Selain itu, Frida juga ragu protokol kesehatan akan diterapkan dengan ketat di kampus. Ia menilai akan ada banyak mahasiswa atau warga kampus lain yang belum sadar pentingnya menjaga jarak atau memakai masker.

Untungnya, Frida kini sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir dan tidak harus mengikuti semua kelas. Wanita berusia 21 tahun tersebut kini tinggal menjalani bimbingan dosen dan menyelesaikan skripsi yang dapat dikerjakannya dari jarak jauh. "Kalau dipaksain masuk, yang ada bisa ada klaster kampus baru tuh. Seminggu masuk juga paling sudah ditutup lagi," pungkas Frida.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts