Delirium menjadi salah satu gejala baru yang bisa diamati pada pasien COVID-19. Delirium menyebabkan pasien mengalami gejala seperti susah fokus hingga swing mood.
- Elvariza Opita
- Kamis, 10 Desember 2020 - 20:52 WIB
WowKeren - Masih banyak hal-hal baru yang terungkap dari wabah virus Corona, termasuk soal gejala klinis yang dialami. Yang terbaru ada sebuah gejala yang diberi nama delirium.
Merujuk Healthline, delirium adalah gangguan pada kinerja otak yang menyebabkan kebingungan mental dan gangguan emosi. Biasanya orang dalam pengaruh alkohol, atau pasien yang baru menjalani operasi, hingga demensia awam mengalami delirium.
Namun belakangan delirium rupanya menjadi salah satu gejala pada pasien COVID-19. Dikutip dari CNBC Indonesia, ada 8 tanda seseorang dengan delirium yang mengarah ke paparan COVID-19.
Seperti misalnya pasien positif yang akan kesulitan fokus dan mudah teralihkan. Pasien juga suka melamun, lama untuk bereaksi, serta daya ingat yang menurun.
Beberapa tanda lainnya seperti sulit berbicara dan berhalusinasi. Pasien dengan delirium juga mudah mengalami perubahan suasana hati alias swing mood, lebih mudah tersinggung, dan kerap terlihat gelisah serta pola tidur yang berubah.
Terkait dengan delirium ini, Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) dr Rubiana Nurhayati, Sp.S., juga membenarkannya. Menurutnya, delirium bisa terjadi karena kondisi yang sudah akrab dijumpai pada pasien COVID-19 yakni hipoksia atau penurunan kadar oksigen dalam tubuh seseorang.
"Keadaan ini disebabkan karena hipoksia atau kekurangan oksigen di otak," jelas dr Rubi, Kamis (10/12). "Kandungan oksigen di otak. Kondisi ini sering terjadi pada pasien COVID-19, di mana saturasi oksigen menurun."
"Biasanya, gejalanya mudah mengantuk, bicara kacau, kadang tidak nyambung, kesadaran terganggu," imbuh dr Rubi, dilansir dari Kompas. Sebelumnya delirium terkait COVID-19 biasa ditemui pada pasien orang dewasa yang lebih tua.
Dilansir dari Stat News, sebuah studi mendapati lebih ari seperempat pasien yang lebih tua yang diobservasi tiba di IGD rumah sakit dengan mengigau. Selain itu, 37 persen dari para pasien yang diamati ini malah tidak memiliki gejala COVID-19 yang khas seperti demam atau sesak napas.
(wk/elva)