Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman meminta pemerintah untuk mematangkan program vaksinasi COVID-19 apabila tidak ingin menimbulkan endemi baru.
- Nidya Putri
- Sabtu, 19 Desember 2020 - 22:23 WIB
WowKeren - Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan program vaksinasi COVID-19 harus dipersiapkan dengan matang. Pasalnya, bila program ini gagal maka bisa menimbulkan endemi baru.
Endemi merupakan kondisi penyakit yang menetap di dalam masyarakat pada suatu daerah atau populasi tertentu. "Bagaimana kalau satu wilayah atau negara gagal mencapai strategi vaksinasi? Ini bisa jadi endemi," kata Dicky dalam sebuah diskusi virtual, Sabtu (19/12).
Dicky kemudian mencotohkan kasus virus Ebola di Afrika yang tidak tertangani dengan baik. "Ingat, contoh terkini, 2018 Ebola itu gagal dikendalikan vaksinasi akibat negaranya, penduduknya abai. Coverage rendah, angka reproduksi tinggi," jelasnya.
Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk menyiapkan strategi yang tepat sebelum memulai program vaksinasi. Tidak hanya itu, ia juga meminta pemerintah tidak mengendurkan tes, telusur, dan tindak lanjut (3T) meski program vaksinasi mulai berjalan.
Selain mengandalkan vaksin, masyarakat juga harus tetap menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. "Kita enggak bisa sambil nunggu vaksinasi tidak melakukan pengendalian upaya 3T, 3M, termasuk pembatasan-pembatasan diabaikan, makin jauh dari keberhasilan program vaksinasi," terangnya.
Selain endemi, Dicky juga mengingatkan soal potensi virus yang lebih hebat dampaknya dari Virus Corona. "Sebagaimana saya ingatkan saat ini bahwa akan ada penyakit pandemi lain yang jauh lebih hebat daripada Covid," katanya. "Itu bisa tidak terlalu lama, karena kita sudah masuk di era pandemi, artinya kita harus bersiap-siap."
Sementara itu, diketahui jika 40 persen masyarakat Indonesia menyatakan jika mereka tak bersedia untuk disuntik vaksin COVID-19 oleh pemerintah. Hal ini merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Populi Center.
Menurut Peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan, kebanyakan responden yang menjawab tidak bersedia disuntik vaksin beralasan karena takut. "Masyarakat yang tidak bersedia diberi vaksin, mayoritas menjawab takut akan bahaya/risiko kesehatan dengan 46,5 persen," tutur Rafif melansir Tempo pada Sabtu (19/12).
(wk/nidy)