Jangan Nekat Terbang! Menhub Tegaskan Penumpang Pesawat yang Positif COVID-19 Bisa Refund Tiket
Instagram/budikaryas
Nasional
Efek Corona untuk Pariwisata

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan bahwa calon penumpang pesawat yang dinyatakan positif COVID-19 bisa me-refund tiket mereka sesuai harga beli.

WowKeren - Salah satu persyaratan yang mesti dipenuhi para pelaku perjalanan saat libur akhir panjang Natal dan Tahun Baru adalah negatif COVID-19. Untuk metode deteksinya pun beragam, seperti tes swab PCR, rapid test antigen, dan rapid antibodi.

Lantas bagaimana jika ada penumpang yang kedapatan positif COVID-19 jelang keberangkatannya? Jika penumpang itu menggunakan pesawat, jangan khawatir, sebab Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan bahwa maskapai akan melakukan pengembalian dana atau refund.

"Jika memang ada yang positif, mereka tetap diperlakukan dengan baik dan diberikan pemahaman bahwa mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan," tutur Budi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/12). "Dan mereka bisa mendapatkan refund sesuai dengan harga yang dibayarkan."

Bila merujuk pada pernyataan resmi Budi Karya, maka semestinya nilai refund tiket yang diterima calon penumpang bisa sampai 100 persen. Tentu saja kebijakan ini diharapkan mampu membuat calon penumpang untuk tidak nekat terbang dengan cara membuat surat hasil tes palsu misalnya.


Pernyataan soal refund ini disampaikan ketika Budi Karya meninjau langsung pelaksanaan protokol kesehatan selama periode Nataru 2020/2021 di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Dalam tinjauannya, Budi Karya mengecek tempat pemeriksaan kesehatan rapid antigen atau tes PCR yang ada di Terminal 2 dan 3 di bandara tersebut.

Dan berdasarkan hasil kunjungannya, Budi Karya pun meminta PT Angkasa Pura II selaku operator bandara untuk berkoordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kementerian Kesehatan. Sehingga diharapkan bisa dilakukan perbaikan dan penataan dalam rangka mengantisipasi terjadinya antrean panjang saat pelaksanaan tes rapid maupun pengecekan surat hasil pemeriksaan kesehatan di bandara.

Budi Karya pun memperkirakan puncak perjalanan terjadi pada 31 Desember 2020. Arus balik juga diperkirakan terjadi pada awal Januari 2021.

"Untuk mengantisipasi puncak perjalanan, saya pikir seluruh stakeholder sudah siap untuk meningkatkan kapasitas karena titik-titik pemeriksaan dari protokol kesehatan itu sudah ditata sedemikian rupa," tegas Budi, dilansir dari Kompas. "Jadi saya pikir itu bisa dilaksanakan dengan baik."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts