Menurut prediksi Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, ekonomi Indonesia tahun 2020 ini masih akan minus atau masih berada dalam resesi.
- Bertilia Puteri
- Senin, 28 Desember 2020 - 10:35 WIB
WowKeren - Varian baru virus corona (COVID-19) yang ditemukan di Inggris membuat resah banyak negara. Bagaimana tidak, varian baru ini disebut membuat virus corona menular sangat cepat.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai pemulihan ekonomi akan terganggu jika varian baru COVID-19 tersebut sampai masuk ke Indonesia. "Ya otomatis (ganggu pemulihan ekonomi). Misalnya ada virus baru, pemerintah memperketat katakanlah pembatasan fisik, pasti ekonomi kita akan turun lagi," terang Tauhid pada Minggu (27/12).
Menurut prediksi Tauhid, ekonomi Indonesia tahun 2020 ini masih akan minus atau masih berada dalam resesi. Ia memproyeksikan ekonomi kuartal IV-2020 berada di kisaran minus 2 persen. Sehingga jika varian baru COVID-19 masuk ke Tanah Air, maka dipastikan pemulihan ekonomi akan semakin lama dan jurang resesi yang menjerat Indonesia akan berkepanjangan.
"Sekarang kan masih rendah, ekonomi kita belum benar kembali normal, proses pemulihan saja kan masih panjang di 2021, saya kira belum normal lagi, virusnya saja belum selesai," papar Tauhid. "Vaksin saja kita belum nih, jadi kita masih khawatir. (Tahun ini) masih minus sekitar 2 persen."
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal. Namun, Faisal menilai gangguan yang disebabkan oleh adanya varian baru COVID-19 tidak akan terlalu signifikan lantaran perekonomian Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh ekonomi domestik dibanding global.
Menurut Faisal, masuknya varian baru COVID-19 bisa menambah kekhawatiran masyarakat Indonesia. Hal ini berdampak pada konsumsi masyarakat yang akan menurun.
"Kalau sampai masuk ke Indonesia dan menyebar di dalam negeri, akan mengakibatkan kekhawatiran masyarakat," ungkap Faisal. "Yang akhirnya kembali menekan tingkat konsumsi masyarakat dan menghambat upaya pemulihan ekonomi."
Faisal sendiri memproyeksikan ekonomi Indonesia kuartal IV-2020 berada di kisaran minus 1 hingga minus 1,5 persen sebelum ada varian baru virus corona. Jika varian baru COVID-19 masuk, maka kemungkinan proyeksi berubah ke angka lebih dalam.
"Mumpung belum masuk ke Indonesia, tutup penerbangan lah terutama negara-negara yang suspek mutasi COVID-19 ini, daripada nanti sudah datang, sudah tidak bisa nangani lagi," pungkas Faisal. "Untuk negara-negara yang punya virus baru Inggris ini lebih baik memang disetop untuk sementara waktu."
(wk/Bert)