Waspada Klaster Keluarga, Dokter Paru Sebut Anak-anak Bisa Jadi Super Spreader
Nasional

Dokter spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr dr Anna Rozaliyani M.Biomed Sp.P memperingatkan agar masyarakat perlu mewaspadai penularan pada klaster keluarga.

WowKeren - Angka COVID-19 di sejumlah daerah di Indonesia kembali meningkat pada bulan Desember 2020. Tak sedikit klaster keluarga yang menjadi penyumbang dalam kasus COVID-19.

Dokter spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr dr Anna Rozaliyani M.Biomed Sp.P pun memperingatkan agar masyarakat perlu mewaspadai penularan pada klaster keluarga. Dalam Program Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Indonesia tentang kesehatan lansia yang dilakukan secara daring dipantau di Jakarta, Minggu (27/12), Anna menyebutkan jika masyarakat menganggap lingkup keluarga adalah yang paling aman dari penularan virus corona.

Padahal, lingkungan keluarga juga masih memiliki risiko penularan COVID-19 apabila ada anggota keluarga yang masih bekerja atau berkegiatan di luar rumah dan tidak menerapkan protokol kesehatan dengan benar ketika di luar ataupun saat kembali ke rumah. "Klaster keluarga kemudian muncul pada bulan September," ujarnya.

"Ketika orang menganggap keluarga adalah tempat yang paling aman, tapi tetap tidak steril dari kemungkinan virus masuk ke rumah karena masih ada anggota keluarga yang tertular kemudian kembali ke rumah," lanjutnya.


Anna mengingatkan jika setiap anggota keluarga yang berkegiatan di luar rumah untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dengan benar agar tidak pulang dengan membawa virus. Terlebih lagi ada kemungkinan anggota keluarga yang terkonfirmasi positif COVID-19 namun tidak menimbulkan gejala, sehingga merasa sehat-sehat saja, namun masih dapat menularkan anggota keluarga lain di rumah.

"Sebaiknya setelah berkegiatan di luar rumah, sampai rumah tidak melakukan apa-apa dulu langsung mandi, membersihkan diri," tuturnya. Ia menyebutkan jika anggota keluarga bisa menjadi 'super spreader' atau pembawa virus dan bisa menularkan ke banyak anggota keluarga lainnya tanpa dia tahu dirinya sedang terinfeksi virus corona.

Bahkan anak-anak pun bisa menjadi 'super spreader'. Walaupun 80 persen pasien COVID-19 hanya menimbulkan gejala ringan hingga sedang dan bisa pulih, ada 20 persen kasus yang mengalami gejala berat, yaitu sebanyak 15 persen mengalami gejala berat dan 5 persennya harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU.

Dokter yang menangani pasien COVID-19 di RS Darurat Wisma Atlet itu pun meminta masyarakat, khususnya kelompok yang berisiko tinggi ketika tertular, untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. "Kasus berat dan kematian meningkat pada orang dengan penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit paru kronis, hipertensi, kanker, dan usia di atas 60 tahun dan satu lagi kondisi yang memperburuk, yaitu obesitas atau kegemukan," imbuhnya.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait