Indonesia memilih untuk menerapkan PPKM Skala Mikro alih-alih lockdown untuk menghadapi pandemi corona. Ketua Satgas COVID-19 IDI Prof Zubairi Djoerban memiliki pandangan tersendiri terkait kebijakan pembatasan ini.
- Bertilia Puteri
- Senin, 08 Februari 2021 - 15:12 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia akan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Skala Mikro untuk wilayah Jawa dan Bali pada 9-22 Februari 2021. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan angka penularan virus corona (COVID-19).
Terkait kebijakan pembatasan ini, Ketua Satgas COVID-19 IDI Prof Zubairi Djoerban memiliki pandangan tersendiri. Zubairi menyinggung soal kebijakan pembatasan di negara lain seperti Inggris.
Menurutnya, Inggris telah tiga kali menerapkan kebijakan lockdown untuk menghadapi pandemi corona. Namun, jumlah kasus COVID-19 di Inggris kini masih lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
"Jadi intinya Inggris misalnya sudah 3 kali lockdown," tutur Zubairi dalam diskusi virtual pada Senin (8/2). "Namun Inggris yang lebih dikit dari kita penduduknya, yang kena COVID-19 lebih tinggi."
Zubairi juga mengungkapkan ada beberapa negara yang menerapkan lockdown dengan hasil yang tidak begitu bagus. Oleh sebab itu, Zubairi tetap optimis dengan kebijakan pembatasan di Indonesia yang tanpa lockdown.
"Memang ada juga lockdown yang berhasil baik di Beijing, Wuhan kemudian di New Zealand, Australia," ungkap Zubairi. "Namun artinya kita dengan penduduk yang sekitar 270 juta ini saat ini ada di ranking nomor 19. Artinya tidak tidak buru-buru amat apalagi negara kita adalah negara terbesar penduduknya nomor 4 setelah China, India, Amerika."
Yang terpenting dalam implementasi pembatasan ini adalah kerjasama yang baik dari semua pihak. Selain itu, kebijakan lain seperti protokol kesehatan dan program vaksinasi juga harus terus dijalankan untuk mendampingi PPKM dan mendapat hasil maksimal.
"Tapi selama tolong diingat beberapa kali Presiden ngomong PPKM enggak efektif kagak bener karena masalah implementasi. Implementasi itu diulang berkali-kali. Maka PPKM mikro juga sami mawon (sama saja) kalau implementasinya tidak baik, tidak disiplin, semua orang tidak merasa terkait. Hanya untuk persoalan waktu aja kita bisa gagal," pungkas Zubairi. "Artinya PPKM mikro bagus asal dikerjakan dengan baik dan benar dan asal bukan hanya satu kebijakan saja. Tetapi juga dengan kebijakan yang lain untuk melawan penyakit yang satu ini. Termasuk vaksinasi, cuci tangan, pakai masker, jangan keluar rumah kalau enggak perlu banget dan seterusnya."
(wk/Bert)