SBY Hargai Kritik Rakyat Selama Jadi Presiden: Saya Merasa Dikawal
Nasional

Susilo Bambang Yudhoyono mengenang masa pemerintahannya sebagai Presiden RI pada 2004-2014 lalu. Ia menyebut kebebasan berekspresi selama kepemimpinannya sangat dihargai.

WowKeren - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenang masa kepemimpinannya sebagai Presiden Indonesia pada 2004-2014 lalu. Hal itu ia sampaikan saat melakukan wawancara dengan TV One pada Senin (15/2).

SBY berpendapat bahwa kebebasan berekspresi selama kepemimpinannya sangat dihargai. Karena itulah ia mengaku menerima kritik dari rakyat selama hari-harinya menjadi Presiden.

"Boleh dikatakan tiada hari tanpa kritik. Maklum pada waktu itu kita masih berada dalam euforia kebebasan, euforia reformasi. Dengan demikian freedom of speech, freedom of the press luar biasa ekspresinya dan kita semua harus memahami konteks waktu itu," kata SBY dilansir dari TV One pada Senin (15/2).

SBY menyebut kritik dari rakyat layaknya pengingat agar pemerintahannya tetap lurus. Dengan kritik rakyat, pendiri Partai Demokrat ini merasa lebih waspada dalam menetapkan suatu kebijakan.


"Saya sendiri mengatakan merasa dikawal. Kalau saya bisa mengakhiri tugas saya dengan yang tadi itu tiada hari tanpa kritik, itu buat saya aware, buat saya berhati-hati dalam ambil keputusan dalam menetapkan kebijakan dan melaksanakan tindakan-tindakan pemerintah agar tidak menyimpang secara fundamental dari konstitusi, UU (Undang-Undang), sistem politik, tata krama dan sebagainya," imbuh SBY.

Lebih dari segalanya, SBY menilai kritik tersebut merupakan sebuah penuntun agar ia tidak membuat kebijakan yang bertentangan dengan kehendak rakyat. "Dan yang lebih penting jangan sampai kebijakan dan tindakan ini bertentangan dengan kehendak mayoritas rakyat Indonesia," jelasnya.

Lebih lanjut, SBY memaparkan bahwa hubungan antara pemerintah dan media massa bisa digambarkan sebagai ikatan cinta dan benci. Hubungan cinta muncul ketika kebijakan dan imbauan pemerintah disiarkan oleh media massa.

Sedangkan hubungan benci timbul saat media massa melancarkan kritik keras hingga sinis terhadap kebijakan penguasa. "Hate-nya dalam artian ini adalah boleh dikatakan era saya dulu pers sangat kritis, sangat keras, bahkan kadang-kadang sangat sinis," jelas SBY.

"Menghadapi itu terus terang sejumlah pejabat pemerintahan kurang nyaman. Tetapi itulah indahnya antara hate and love relations tadi semuanya harus siap," pungkas Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut.

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts