Ini Kata Terawan Soal Uji Klinis Vaksin Nusantara yang Antibodi Diklaim Bisa Bertahan Seumur Hidup
Nasional
Vaksin COVID-19

Eks Menkes Terawan Agus Putranto yang memprakarsai Vaksin Nusantara ternyata sempat memberi pernyataan soal hasil uji klinis fase I produk tersebut. Seperti apa?

WowKeren - Indonesia sedang dibuat geger dengan Vaksin Nusantara yang diklaim bisa memicu produksi antibodi sampai seumur hidup. Klaim ini belakangan banyak dipertanyakan orang, apalagi karena uji klinis yang masih dilakukan.

Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang menggagas proyek tersebut pun buka suara soal hasil uji klinis fase I, seperti apa? "Uji klinis I yang selesai dengan hasil baik, imunitas baik dan hasil safety," kata Terawan, Rabu (17/2).

"Kan uji klinis I mengontrol safety dari pasien. Dari 30 pasien imunogenitasnya baik," imbuh Terawan, dilansir dari Detik News, Jumat (19/2).

Dijelaskan lebih jauh oleh Terawan, pengembangan dan uji klinis vaksin ini merupakan kerjasama sejumlah pihak. Seperti PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bersama AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat, Universitas Diponegoro (Undip), dan RSUP dr. Kariadi Semarang.


Pada kesempatan tersebut, Terawan juga menjelaskan alasan mengapa vaksinnya bisa memicu antibodi yang bertahan seumur hidup. Rupanya hal ini karena vaksin berasal dari sel dendritik autolog (komponen dari sel darah putih) yang dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2.

Sel dendritik yang telah mengenal antigen, kata dia, kemudian akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS-CoV-2.

"Vaksin berbasis dendritik sel. Dikenalkan dengan antigen COVID-19 jadi punya memori COVID-19," terang Terawan. "Proses simpel dengan inkubasi seminggu kemudian jadi vaksin individual dan disuntikkan."

Konsep vaksin ini pun, dituturkan Terawan, personal sesuai dengan kondisi komorbid atau penyakit penyerta setiap individu. Kendati demikian, produksi massal atas vaksin ini tetap bisa dilakukan. "Jadi orang pikir tidak bisa produk massal. Bahkan bisa sebulan bisa 10 juta, bisa dilakukan," tegasnya.

Namun Terawan belum bisa menargetkan kapan vaksin itu bisa diedarkan. Namun besar harapan Terawan agar Vaksin Nusantara bisa membawa Indonesia sejajar dengan negara lain. "Ini buatan Indonesia. Kita bisa jadi sejajar dengan negara lain," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts