Perhatian! Ternyata Mutasi Corona E484K 'Eek' Lebih Berbahaya untuk Anak Muda
Pxhere
Health
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Kaum muda selama ini tidak terlalu dikhawatirkan karena dianggap memiliki imunitas yang jauh lebih baik dalam melawan COVID-19. Namun tampaknya tidak jika berhadapan dengan mutasi E484K.

WowKeren - Selayaknya virus lain, SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 juga terus mengalami mutasi dan beberapa di antaranya telah memasuki Indonesia. Salah satu yang terbaru adalah mutasi E484K, atau dikenal juga sebagai "eek", yang menjadi perhatian banyak pakar karena disebut-sebut bisa menghindari antibodi.

Dan bukan cuma itu, mutasi "eek" ini ternyata malah lebih berbahaya untuk kaum muda. Padahal, seperti diketahui, kaum muda cenderung lebih rendah risikonya terkait dengan penularan COVID-19.

Penjelasan mengenai mutasi E484K yang menyerang anak muda ini seperti disampaikan Ketua Satuan Tugas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban. Dan E484K ini merupakan mutasi varian P1 yang berasal dari Brasil, yang juga masuk daftar varian yang diwaspadai peneliti selain B117 dari Inggris dan B1351 dari Afrika Selatan.

"E484K ini adalah mutasi varian P.1," tutur Zubairi, dilansir dari Viva pada Senin (12/4). "Yang diketahui memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi pada anak muda."


Sejak Kamis (1/4), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah memasukkan E484K ke daftar variant of concern (VOC). Tentu saja hal ini tak lepas dari sifat E484K yang kurang rentan alias sulit dilawan dengan antibodi sehingga menimbulkan kekhawatiran akan efikasi atau kemanjuran vaksin.

"Karena E484K ini kurang rentan terhadap antibodi, maka akan ada dampaknya pada efikasi vaksin. Tapi, saya masih menunggu hasil studi lanjutan dan bagaimana efeknya terhadap vaksin yang selama ini beredar," kata Zubairi.

Dengan sifatnya mutasi E484K yang mampu menghindari antibodi, virus ini juga akan lebih mudah menginfeksi penyintas alias pasien sembuh COVID-19 atau orang yang telah divaksinasi. Dan dipaparkan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), mutasi E484K terjadi di 2 titik dan bersifat mengkhawatirkan.

"Dalam sebuah pengujian di laboratorium, E484K terbukti membantu virus Corona menghindari antibodi yang dihasilkan oleh infeksi sebelumnya," terang Zubairi. "Sehingga membuatnya kurang rentan terhadap obat antibodi, termasuk vaksin."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts