BPS Ungkap Alasan RI Masih Resesi Hingga Sekarang
pixabay.com/Ilustrasi
Nasional
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Pandemi COVID-19 menyebabkan perekonomian global mengalami kegoyahan, termasuk Indonesia. BPS mengungkapkan salah satu penyebab Indonesia masih mengalami resesi hingga sekarang.

WowKeren - Pemerintah Indonesia saat ini tengah mengupayakan pemulihan ekonomi nasional. Perekonomian Indonesia mengalami kegoyahan akibat pandemi COVID-19. Kegoyahan ekonomi juga terjadi secara global.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan bahwa pemulihan ekonomi di Indonesia terhambat, salah satunya akibat ulah pemerintah daerah (pemda) yang menahan pencairan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hingga Maret 2021, total dana yang ditimbun mencapai Rp 182 triliun.

"Satu hal buat menghambat adalah realisasi APBD belanja barang jasa dan pegawai mengalami kontraksi," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/5). "Presiden sudah ingatkan daerah realisasi anggaran ada, kalau bisa diwujudkan maka konsumsi pemerintah akan bantu pemulihan ekonomi dengan pertumbuhan cukup kuat."

BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi tanah air -0,74 persen secara year on year (yoy) dan -0,96 persen qtq. Komponen konsumsi pemerintah tumbuh 2,96 persen yang ditopang oleh realisasi belanja barang dan jasa pemerintah pusat.


"Kenaikan realisasi barang jasa ini semua terjadi pada semua komponen kecuali belanja perjalanan dinas," terangnya. "Dan ini meningkat karena berkaitan dengan penanganan COVID-19 baik pengadaan obat-obatan dan vaksin."

Sebelumnya, Indonesia melaporkan minus sampai 5,32 persen di Kuartal II-2020. Meski demikian, di Kuartal I-2021 mengalami kontraksi sampai 0,74 persen yang menjadi tanda pulihnya ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, kontraksi pada Kuartal I-2021 ini masih sejalan dengan proyeksi pemerintah. Pemerintah telah memprediksi ekonomi Indonesia mengalami kontraksi di kisaran 0,6 hingga 0,9 persen.

Sementara itu, pemerintah memprediksi ekonomi Indonesia baru tumbuh positif di Kuartal II-2021. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa bantalan pertumbuhan itu adalah peningkatan belanja pemerintah, belanja masyarakat, hingga kinerja ekspor Indonesia.

Bantalan tersebut diharapkan bisa membuat perekonomian Indonesia tidak terkontraksi terlalu dalam, dengan proyeksi pertumbuhan tahun 2021 di kisaran 4-5 persen dan titik tengah 4,5 persen. Akan tetapi hal tersebut tentunya memiliki risiko, baik kecil maupun besar.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts