Tuai Kontroversi, Sulawesi Utara Lanjutkan Vaksinasi dengan AstraZeneca
AP Photo
Nasional
Vaksin COVID-19

Satgas Penanganan COVID-19 Sulawesi Utara melanjutkan peredaran vaksin jenis AstraZeneca di tengah kontroversi yang menerpanya. Simak penjelasan Satgas berikut ini.

WowKeren - Penangguhan vaksin AstraZeneca dari batch CTMAV547 tidak mempengaruhi proses vaksinasi di Sulawesi Utara. Pasalnya, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 setempat akan menggunakan vaksin AstraZeneca dan Sinovac untuk mengendalikan wabah virus Corona.

"Penghentian sementara hanya khusus untuk AstraZeneca batch CTMAV547, selain itu tidak. Jadi, Sulawesi Utara tetap melanjutkan program vaksinasi menggunakan AstraZeneca yang bukan batch CTMA547 dan juga menggunakan vaksin Sinovac," kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Sulawesi Utara, dr Steaven Dandel, dilansir dari Kumparan, Selasa (18/5).

Dandel mengungkapkan bahwa Sulawesi Utara memiliki sekitar 8 ribu dosis vaksin AstraZeneca batch lain yang siap digunakan. Rencananya, 8 ribu dosis tersebut akan digunakan untuk suntikan dosis pertama dan kedua.

Bagi masyarakat yang terlanjur mendapat suntikan dosis pertama dengan vaksin AstraZeneca batch CTMA547, akan kembali disuntik vaksin sejenis namun dengan batch yang berbeda. Karena itulah Dandel meminta masyarakat untuk tak perlu mengkhawatirkan risikonya.


Dia memaparkan, "Masyarakat yang disuntik dosis pertama dengan AstraZeneca batch CTMA547 tak perlu takut. Karena ketika sudah masa untuk disuntik dosis kedua, tetap akan diberikan, tapi tak lagi gunakan batch yang kini sementara diteliti tersebut."

Lebih lanjut, Dandel menegaskan bahwa pihaknya akan mengikuti arahan pemerintah pusat untuk menghentikan sementara penyuntikan vaksin AstraZeneca batch CTMA547. "Hingga hasil penelitian BPOM keluar, kami belum menggunakan batch CTMA547 itu. Mungkin hasilnya sudah ada dua pekan ke depan," tegas Dandel.

"Saya juga mau sampaikan, untuk vaksin Sinovac, Sulawesi utara masih memiliki lebih kurang 30 ribu dosis. Jadi, Sulawesi Utara tak menghentikan vaksinasi secara total, melainkan tetap dilanjutkan," pungkasnya.

Sementara itu, Kemenkes menghentikan sementara peredaran vaksin demi melakukan uji toksisitas dan sterilitas oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal ini semata dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin.

Kendati demikian, Kemenkes memastikan batch lain dari vaksin ini aman sehingga tetap dilanjutkan distribusi dan pemakaiannya. Hanya batch CTMAV547 yang dihentikan sementara sembari menunggu hasil investigasi yang kemungkinan memerlukan waktu 1-2 pekan.

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts