Soroti Kontroversi 'Zahra', Aming: Suuzon Strategi Marketing
Instagram/amingisback
Selebriti
Kontroversi Sinetron Zahra

Sinetron 'Zahra' menuai banyak kecaman dari masyarakat, termasuk para artis. Melalui sebuah postingan, Aming menyuarakan pendapatnya tentang kontroversi ini sekaligus menyampaikan harapan terhadap tayangan di televisi.

WowKeren - Tak hanya menuai protes dari masyarakat luas, sejumlah artis turut mengecam sinetron "Zahra". Salah satu protes datang dari Aming. Akan tetapi, ia bukan hanya memprotes melainkan menyampaikan pendapat dan harapannya mengenai kontroversi ini.

Melalui postingan di Instagram pribadinya pada Rabu (2/6), Aming mengunggah video yang berisi pendapatnya tentang kontroversi tersebut. Lewat video tersebut, ia mengaku ingin memberikan edukasi kepada publik mengapa sinetron tersebut menuai kecaman. Pasalnya, sinetron tersebut menampilkan Lea Ciarachel berperan sebaga istri ketiga di usianya yang masih 15 tahun.

"Nah, sekarang saya ingin memberikan edukasi publik tentang apa yang lagi viral banget nih. Kita semua tahu ya, tentang sinetron istri-istri Pak Tirta, ya. Jadi ini analisa gembel saya sih, menanggapi polemik yang ada di masyarakat," kata Aming dalam videonya.

Pertama-tama Aming menyatakan bahwa mungkin saja sinetron "Zahra" pada awalnya mempunyai tujuan baik. Misalnya bertujuan memberikan edukasi tentang betapa repotnya kehidupan seseorang yang berpoligami.


"Tapi, penyajiannya, delivery-nya suka kurang bijak. Suka tidak mempertimbangkan aspek-aspek yang pada akhirnya akan menjadi bumerang buat mereka," lanjutnya. "Entah, nih. Ini semacam kecolongan atau suuzannya saya strategi marketing atau emang gimmick atau gimana saya nggak tahu. Tapi kalau sampai seperti itu, wah, gila banget sih."

Kemudian Aming menyebutkan peraturan perundangan di Indonesia yang mana mencakup usia minimal seseorang diperbolehkan menikah. Jika peraturan tersebut tidak diindahkan maka sama saja dengan melanggar hukum. Seperti yang ada di sinetron "Zahra" di mana seorang anak di bawah umur harus berperan sebagai seorang istri dan melakukan adegan dewasa.

Selanjutnya Aming menyoroti segmentasi penonton di Indonesia seperti apa. Di mana tidak semua orang punya pilihan dalam menikmati hiburan dan masih banyak yang kurang bijak memilih tontonan. Sehingga ia berharap bahwa televisi nasional dan pengurus KPI agar mempertimbangkan tontonan yang layak untuk semua orang dari segala lapisan.

"Tolong orangtua yang ingin anaknya menjadi artis, kalau misal kalian tanda tangan kontrak lihat dulu apakah perannya sesuai dengan usia anak atau nggak," kata Aming. "Jadi harus mempertimbangkan itu. Kalau misalnya kurang paham bertanyalah sama yang lebih tahu tentang bagaimana industri ini berjalan."

Selain itu, ia berpendapat bahwa seharusnya para casting director lebih memperhatikan usia para pemain. Tak sampai di sana saja, ia mempertanyakan bagaimana kinerja lembaga pengawas acara dalam mengendalikan tayangan di televisi.

"Semoga dengan adanya hal ini kita bisa lebih bijak lagi dalam memberikan tayangan untuk kita tonton atau enggak. Seperti yang sempat saya bahas sebelumnya, semua itu tentang pilihan bukan paksaan. Jadi pilihlah sesuatu dengan bijak. Thank you," tutup Aming.

(wk/inta)

You can share this post!

Related Posts