Epidemiolog UI memperkirakan ada 40,5 juta warga Indonesia yang sudah terpapar COVID-19 hingga Januari 2021 kemarin. Padahal data resmi saat ini di kisaran 1,8 juta.
- Elvariza Opita
- Jumat, 04 Juni 2021 - 13:14 WIB
WowKeren - Hingga kini Indonesia sudah mencatatkan hampir dua juta kasus positif COVID-19, yang dihimpun sejak kasus perdana diungkap pada Maret 2020 lalu. Namun para pakar epidemiologi meyakini jumlah kasus positif di Indonesia jauh lebih banyak ketimbang yang telah dikonfirmasi.
Hal ini terungkap dari studi seroprevalensi (pengujian antibodi) oleh Universitas Indonesia. Lewat riset tersebut, diperkirakan sebanyak 15 persen dari 270 juta penduduk Indonesia sudah terpapar COVID-19 dari rentang Desember 2020 sampai Januari 2021. Dengan demikian, kurang lebih ada 40,5 juta orang yang sudah terpapar COVID-19.
Tentu menjadi pertanyaan besar, apa sebenarnya penyebab di balik perbedaan jumlah kasus di lapangan dan prediksi hasil riset UI. Peneliti utama studi yang dibantu oleh Organisasi Kesehatan Dunia tersebut, Tri Yunis Miko Wahyono, menilai penyebabnya karena 3T yang rendah.
"Sistem surveilans resmi kami tidak dapat mendeteksi kasus COVID-19. Ini lemah," ujar Miko, dilansir pada Jumat (4/6). "Pelacakan kontak dan pengujian pun di Indonesia sangat buruk. Ini menjelaskan mengapa begitu sedikit kasus yang terdeteksi."
Lantas apa kata Kementerian Kesehatan soal temuan ini? Juru Bicara Vaksinasi dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, tak memungkiri jika memang ada lebih banyak kasus di lapangan ketimbang yang dilaporkan secara resmi.
Penyebab utamanya karena minim gejala sehingga penderita tak memeriksakan diri. "(Selain itu) Indonesia memiliki pelacakan kontak yang rendah dan kurangnya laboratorium untuk memproses tes," kata Nadia.
Angkanya pun bisa begitu jauh berbeda karena studi seroprevalensi mencakup lebih banyak kemungkinan orang terpapar COVID-19. Sebab berbeda dengan tes swab PCR yang mendeteksi keberadaan virus, studi seroprevalensi didasarkan pada antibodi yang merupakan respons dari adanya paparan antigen atau penyebab penyakit, dalam hal ini virus Corona.
Karena itulah, Miko sangat menyarankan agar Indonesia lebih menggenjot vaksinasi agar segera tercapai herd immunity. Sedangkan saat ini tingkat vaksinasi COVID-19 di Indonesia pun masih tergolong rendah, yakni baru 6 persen dari 181 juta potensi penerima yang sudah mendapat suntikan 2 dosis vaksin COVID-19.
(wk/elva)