Bangkalan Madura 'Banjir' COVID-19, Pakar Wabah Bongkar 3 Penyebabnya
Pixabay/Михаил Докуки
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Bangkalan, Madura menjadi salah satu titik panas penyebaran COVID-19 di Jawa Timur. Dinkes hingga pakar epidemiologi pun mengungkap faktor penyebab di balik ledakan kasus tersebut.

WowKeren - Jika Jawa Tengah sangat mewaspadai COVID-19 di Kudus, maka titik panas penyebaran wabah di Jawa Timur saat ini adalah Bangkalan Madura. Lonjakan kasus di kabupaten tersebut tengah meningkat drastis seusai libur Lebaran.

Namun sebenarnya apa yang menyebabkan Bangkalan mendadak "dibanjiri" pasien positif COVID-19 seperti saat ini? Para pakar wabah pun mengungkap sejumlah alasan, meski faktor utamanya adalah mobilitas warga yang meningkat selama Lebaran kemarin.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Herlin Ferliana tak menampik jika mobilitas warga tidak bisa seratus persen dicegah dengan larangan mudik kemarin. Dan kini sepertinya dampak sudah mulai terlihat.

"Itu yang kami khawatirkan," tutur Herlin. "Kelihatannya sudah mulai terjadi peningkatan kasus ini (COVID-19 di Bangkalan) setelah libur panjang."

Sedangkan pakar epidemiologi Universitas Airlangga, Dr Windhu Purnomo mengaitkan ledakan kasus positif ini akibat disiplin protokol kesehatan yang luar biasa buruk. "Disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M tampak sangat buruk," paparnya kepada Kompas, Senin (7/6).


"Masyarakat di Madura banyak sekali yang tidak menggunakan masker di tempat-tempat umum, termasuk di transportasi umum dan pasar," imbuhnya. Bahkan beberapa warga blak-blakan mengaku tidak percaya virus Corona hingga meyakini wabah tersebut sudah tidak ada.

Sementara faktor lain yang turut mendorong kenaikan besar-besaran kasus positif di Bangkalan adalah karena testing yang sangat buruk. "Penemuan kasus di banyak daerah, juga khususnya di Kabupaten Bangkalan dan beberapa kabupaten di Madura sangat buruk," tutur Windhu.

Kembali kepada ketidakpercayaan akan wabah COVID-19, maka kemauan dan kemampuan testing serta tracing di Madura pun begitu rendah. Alhasil jumlah kasus terkonfirmasi positifnya selama ini terlihat rendah padahal hanya berupa data semu.

"Kalau beberapa kabupaten di Madura sudah berbulan-bulan dinyatakan sebagai zona kuning. Itu sesungguhnya tidak menggambarkan realitas karena rendahnya case finding (penemuan kasus COVID-19)," ujar Windhu.

"Jadi di sana kemungkinan besar terjadi reservoir penularan COVID-19 yang sangat besar," imbuhnya. "Di bawah permukaan yang tidak terdeteksi yang bisa menjadi bom waktu."

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, juga menilai testing yang dilakukan saat ini cenderung dilakukan kepada mereka yang datang ke fasilitas kesehatan atau terpaksa diperiksa. "Dan menurut saya terlambat kalau seperti itu dan berbahaya," kata Dicky menekankan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts