Walkot Solo Gibran 'Murka' Soal Desakan Lockdown Pulau Jawa Imbas Ledakan COVID-19
Twitter/PEMKOT_SOLO
Nasional
PSBB Corona

IDI sampai epidemiologi menyarankan lockdown agar ledakan wabah COVID-19 Indonesia bisa segera diatasi, namun Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka punya pendapat berbeda.

WowKeren - Ledakan kasus COVID-19 tengah terjadi di Indonesia dan menyebabkan diambilnya sejumlah langkah pengetatan kegiatan masyarakat. Namun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) masih kurang untuk mengendalikan lonjakan wabah yang terjadi.

Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 IDI, Prof Zubairi Djoerban, meminta pemerintah menerapkan lockdown, yang juga harus gamblang dikenalkan dengan nama tersebut. "Saya rekomendasikan kata lockdown saja agar monitoringnya lebih tegas dan lebih serius, meski isi kontennya tidak jauh beda dengan PPKM," terang Zubairi lewat Twitter-nya, Selasa (15/6).

Hal senada juga disampaikan pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. Dicky menyebut diperlukan karantina yang dilakukan serentak di Pulau Jawa agar kasus COVID-19 tidak semakin menyebar luas.

"Belum ada varian serius, kita harus PSBB dan karantina wilayah. Apalagi saat ini (sudah ada varian baru yang lebih ganas), harus level Jawa, bukan lagi Jakarta," tutur Dicky, dikutip dari Suara, Rabu (16/6).


Lonjakan ini dikhawatirkan makin tak terkendali jika langkah lockdown tidak segera dikendalikan. "Kita bisa hadapi periode atau durasi lonjakan, relatif bisa dua bulan, bahkan tiga bulan melihat data terakhir," ujarnya.

Namun Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menolak keras wacana tersebut. Menurut putra sulung Presiden Joko Widodo itu, kebijakan lockdown se-Pulau Jawa tidak adil.

Pasalnya tidak semua daerah di Pulau Jawa berstatus zona merah COVID-19, termasuk Solo. Lockdown se-Pulau Jawa tentu akan sangat mengganggu pemulihan ekonomi yang coba dilakukan pemerintah daerah setempat.

"Lockdown se-Jawa ya itu kurang fair terutama kota yang bukan zona merah. Solo sedang fase pemulihan ekonomi kalau lockdown ya turun lagi, ya dilihat, tidak bisa sama rata," beber Gibran kepada Solopos jaringan Suara. "Solo dan Kudus beda."

"Jangan semua total lockdown, ya susah," imbuhnya. "Solo sudah baik sekali, vaksinasi cepat, PPKM Mikro dan Jogo Tonggo jalan, kalau lockdown tidak fair."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts