Benarkah Vaksin AstraZeneca Paling Berisiko Picu Pembekuan Darah Pada Wanita Muda?
Unsplash/Mika Baumeister
Health
Vaksin COVID-19

Vaksin AstraZeneca diklaim memiliki tingkat efikasi yang cukup untuk melindungi dari infeksi virus Corona. Namun vaksin ini juga dikaitkan dengan efek KIPI pembekuan darah.

WowKeren - AstraZeneca menjadi salah satu vaksin COVID-19 yang beredar di Tanah Air. Meski tingkat efikasinya diklaim menjanjikan, vaksin ini menjadi sorotan karena disebut-sebut terkait dengan banyaknya dugaan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) berupa pembekuan darah.

Perihal KIPI berupa pembekuan darah ini pun turut menjadi perhatian Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Zullies Ikawati, Ph.D., Apt. Menurutnya, ada satu kelompok yang lebih berisiko mengalami pembekuan darah bila merujuk pada data penggunaan vaksin AstraZeneca di Eropa, yakni kelompok perempuan berusia muda.

"Sebagian besar terjadi pada usia muda (di bawah 40 tahun)," tutur Zullies dalam keterangannya, Selasa (22/6). "Bahkan di bawah 30 tahunan dan kebanyakan adalah wanita."

Karena itulah, menurut Zullies, otoritas kesehatan Inggris bahkan sempat merekomendasikan agar wanita di bawah usia 40 tahun tak diberi suntikan vaksin AstraZeneca. Meski demikian, bila seorang wanita di bawah 40 tahun sudah menerima suntikan dosis pertama vaksin AstraZeneca dan tidak menemui masalah apapun maka bisa diteruskan dengan suntikan dosis kedua.


Namun di luar kelompok wanita di bawah usia 40 tahun, malah ada satu kelompok lain yang lebih bermasalah. Menurut mantan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) ini, menerangkan calon penerima vaksin dengan riwayat pembekuan darah lah yang harus menghindari vaksin AstraZeneca.

"Yang lebih berisiko justru mereka yang pernah mengalami heparin-induced thrombocytopenia and thrombosis (HITT atau HIT tipe 2)," kata Zullies, dikutip dari Tribun Kesehatan pada Rabu (23/6). "Atau pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah."

Lebih jauh dijelaskan Zullies, sampai tanggal 5 Mei 2021, sudah sekitar 30 juta dosis vaksin AstraZeneca yang diedarkan. Sebanyak 262 di antaranya dilaporkan mengalami pembekuan darah, sedangkan 51 di antara ratusan kasus tersebut meninggal dunia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Eropa (EMA), menurut Zullies, telah mengevaluasi temuan kejadian yang ada dan diduga memang ada kaitan kuat antara kejadian pembekuan darah dengan penggunaan vaksin AstraZeneca. Namun angka kejadiannya sangat jarang.

"Jika dihitung, maka persentase kejadiannya sangat kecil sekali. Itulah makanya EMA masih menilai bahwa kalaupun memang vaksin ini dapat menyebabkan reaksi pembekuan darah, manfaatnya masih lebih besar daripada risikonya," pungkas Zullies. "Sehingga vaksin ini tetap boleh diberikan."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts