Psikolog Joice Manurung turut menanggapi kabar ditangkapnya Nia Ramadhani karena narkoba. Ia menjawab banyak pertanyaan publik soal perubahan fisik dan gelagat aneh Nia di unggahan InstaStory serta video viral.
- Marina Larasati
- Jumat, 09 Juli 2021 - 15:34 WIB
WowKeren - Perubahan wajah Nia Ramadhani saat pertama kali beredar kabar dirinya ditangkap karena narkoba sempat menjadi perbincangan. Dilihat dari unggahan InstaStory-nya, wajah Nia disebut tampak pucat dan sayu.
Mata cekung serta tubuh kurus Nia juga tak lepas dari sorotan publik. Ciri fisik Nia ini pun disebut mirip dengan beberapa ciri khas pecandu narkoba terkhusus jenis sabu. Lantas bagaimana kata psikolog terkait hal ini?
Joice Manurung salah seorang psikolog akhirnya ikut buka suara soal perubahan fisik Nia Ramadhani. Menurut Joice, pengguna sabu memang cenderung terlihat lebih kurus.
"Umumnya mereka tidak cepat lapar, nafsu makannya turun. Jadi kalau dilihat secara fisik mereka lebih kurus," kata Joice kepada awak media di kawasan Jakarta Utara, Kamis (8/7). "Kemudian wajahnya lebih ceria, jadi lebih sering tersenyum, tertawa, dan lebih aktif dalam aktivitas fisiknya."
Selain unggahan Instagram, video Nia saat memwakan acara bersama Raffi Ahmad juga kembali disorot. Dalam video yang sempat viral itu, Nia diduga sedang dalam pengaruh narkoba. Terbukti dari gelagat anehnya yang sempat ramai dihujat.
Sayangnya, Joice Manurung mengaku tidak bisa memastikan apakah saat itu Nia tengah dalam pengaruh sabu atau tidak. Namun, ia tak menampik bahwa gelagat aneh yang ditunjukkan Nia termasuk dalam ciri-ciri seorang pemakai.
"Memang saya tidak bisa memastikan, namun kalau kita perhatikan dari beberapa ciri khas yang saya sebutkan, misalnya kehilangan fokus, ini biasanya muncul ketika ada kondisi putus zat. Jadi mungkin beberapa waktu satu dua hari dia nggak dapet (sabu) konsentrasinya mulai terganggu, dia tidak bisa connect dengan sekitarnya," beber Joice.
Joice kemudian menjelaskan jika orang yang terpengaruh sabu biasanya tidak bisa melakukan hal yang benar dan kerap membuat kesalahan. "Jadi ketika dia diminta untuk melakukan sesuatu hal, dia nggak bisa membuat sebuah cara yang tepat, bahkan mungkin nggak relevan dengan yang seharusnya," tutupnya.
(wk/lara)