Meningkatnya jumlah pasien COVID-19 di sejumlah fasilitas kesehatan membawa dampak tersendiri bagi para nakes. Hal ini disampaikan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Sabtu, 10 Juli 2021 - 11:29 WIB
WowKeren - Lonjakan COVID-19 yang terjadi di Indonesia belakangan ini membuat jumlah pasien juga meningkat. Banyak rumah sakit yang telah dibanjiri oleh pasien COVID-19.
Hal tersebut berdampak pada kondisi mental dari para tenaga kesehatan (nakes) yang menjadi garda terdepan dalam menangani pasien COVID-19. Hal ini diungkapkan oleh Harif Fadilah selaku Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
"Tiga faktor penyebabnya, lonjakan kasus, kurangnya nakes karena terkonfirmasi positif COVID-19, dan fasilitas layanan yang memang tidak segera terpenuhi untuk melakukan pelayanan," terang Harif dalam konferensi pers virtual, Jumat (9/7).
Harif menyampaikan bahwa sudah ada sekitar 15 ribu nakes yang terkonfirmasi positif COVID-19 di berbagai rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta. Tingkat kematian di Jawa Timur, sangat tinggi, hampir 140 nakes dari 373 telah meninggal. Di bulan Juli sendiri sudah ada 22 orang nakes meninggal dari 1 Juli hingga 9 Juli 2021.
Lebih lanjut, Harif mengungkapkan bahwa laporan dari rumah sakit swasta terdapat lebih dari 25 persen perawat mereka terkonfirmasi positif COVID-19. Hal ini juga disebabkan oleh adanya lonjakan yang terjadi beberapa waktu belakangan.
"Di satu sisi nakes yang terkonfirmasi positif COVID-19, sehingga mereka harus mengurangi jumlah tenaga yang bertugas," terangnya. "Mereka yang sekarang bertugas dengan tenaga apa adanya dan tingginya jumlah kasus bisa dibayangkan beban yang teman-teman kami tanggung."
Harif menyampaikan bahwa tekanan yang dihadapi oleh nakes bukan hanya sekadar dimarah-marahi, ditekan-tekan, atau menerima tindakan kasar. Melainkan, kekerasan seperti pemukulan pada perawat karena kurangnya pasokan oksigen. PPNI sendiri telah menerima laporan tiga kasus pemukulan.
Di sisi lain, Harif mengaku bahwa ada kesulitan untuk merekrut relawan kesehatan. Relawan saat ini sangat dibutuhkan untuk membantu penanganan pasien di sejumlah fasilitas kesehatan di daerah yang tengah mengalami lonjakan COVID-19.
Harif menerangkan bahwa pemerintah telah berupaya keras untuk menambah tenaga atau relawan kesehatan, tetapi di tingkat pusat, membutuhkan jumlah yang tinggi. "Barusan saya dapat informasi, untuk di Wisma Haji (Jakarta Timur) perlu 450 orang, itu baru perawat saja, belum yang lainnya," tandas Harif.
(wk/tiar)