Sebelumnya sempat geger temuan tabung oksigen palsu yang diduga berisi udara tambal ban di Tulungagung, Jawa Timur. Polda Jatim pun mengungkap hasil investigasinya.
- Elvariza Opita
- Sabtu, 24 Juli 2021 - 16:42 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu Indonesia sempat diramaikan dengan kabar beredarnya tabung-tabung berisi oksigen palsu di Tulungagung, Jawa Timur. Yang membukanya adalah pedagang ikan koi yang lantas memicu kekhawatiran jual-beli meresahkan seperti ini berdampak terhadap pasien COVID-19 yang memerlukan sokongan oksigen.
Polda Jatim pun turun tangan menginvestigasi kasus tersebut. Dan rupanya, menurut hasil investigasi Polda Jatim, pemberitaan soal beredarnya oksigen palsu tersebut perlu diklarifikasi.
Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Farman, menjelaskan bahwa kasus ini bermula dari kelangkaan tabung oksigen di Pacitan. Alhasil kompresor di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan, yang selama ini dipakai untuk mengisi tabung selam, digunakan untuk memberi penanganan pertama terhadap pasien.
BPBD Pacitan pun mendapat restu untuk mengisi oksigen ke dalam 32 tabung ukuran 1 meter kubik dan 6 tabung ukuran 6 meter kubik. Dan salah satu dari tabung berukuran 6 meter kubik inilah yang kemudian dibawa ke Tulungagung hingga sampai ke penjual ikan koi dan dianggap berisi oksigen palsu.
Rupanya setelah dilakukan pengecekan, kadar oksigen di tabung tersebut adalah 21,13 sampai 22,68. Dengan kata lain, bisa disimpulkan bahwa bukan oksigen palsu, tabung tersebut hanya tidak berisi oksigen dengan kadar yang semestinya, serta tentu saja tidak memenuhi standar penggunaan medis.
"Artinya bahwa oksigen dalam tabung tersebut bukan oksigen palsu," beber Farman. "Namun kadar oksigen yang ada di dalam tabung ukuran enam meter kubik tersebut, yang digunakan untuk ikan koi, tidak memenuhi standard 99,5 persen yang digunakan untuk medis."
Karena kadar yang kurang dari standar, ikan koi yang diberi pasokan dari tabung tersebut pun cepat mati. Memang menurut cerita sang penjual, ikan koinya langsung mati hanya dalam hitungan menit.
Lebih lanjut ditelusuri, 32 tabung 1 meter kubik dan 5 tabung 6 meter kubik sudah digunakan di berbagai fasilitas kesehatan di Pacitan. Dan hasilnya, tidak ada pasien yang terdampak meski memakai tabung oksigen dengan kadar 21-22 persen tersebut.
"Karena tabung tersebut masih berisi oksigen, meski kadarnya tidak sesuai dengan ketentuan medis yakni 99,5 persen," ujar Farman, dikutip dari Suara Surabaya, Sabtu (24/7). "Hal ini membuktikan tidak ada oksigen palsu yang beredar di Tulungagung."
"Oksigennya asli, hanya kadarnya yang kurang," imbuh Farman. Dan ditegaskan pula olehnya, sampai saat ini belum ditemukan unsur pidana dari kasus tersebut, lantaran semua pihak yang terlibat tidak memiliki kesengajaan dan niat jahat.
(wk/elva)