Sebagai informasi, pemerintah menyasar 208,2 juta warga Indonesia untuk menjadi penerima vaksin COVID-19 demi mencapai herd immunity alias kekebalan berkelompok.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 14 Agustus 2021 - 09:24 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia terus menggencarkan program vaksinasi COVID-19 untuk mencapai kekebalan berkelompok alias herd immunity. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sempat mengungkapkan bahwa program vaksinasi COVID-19 ini ditarget selesai pada akhir tahun 2021 ini.
Sebagai informasi, pemerintah menyasar 208,2 juta warga Indonesia untuk menjadi penerima vaksin COVID-19 demi mencapai herd immunity. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 per Jumat (13/8), sebanyak 53,2 juta warga Indonesia telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19 (25,5 persen dari target). Pada Jumat kemarin, ada tambahan 1.317.784 orang penerima vaksin dosis pertama.
Sementara itu, penerima dosis kedua vaksin COVID-19 bertambah sebanyak 1.484.073 orang pada Jumat kemarin. Dengan demikian, jumlah penerima vaksinasi COVID-19 lengkap di Indonesia kini telah mencapai 27,2 juta atau 13,05 persen dari target.
Di sisi lain, pakar menilai herd immunity kemungkinan sudah tercapai di Jawa dan Bali. Tri Yunis Miko selaku pakar epidemiologi FKM Universitas Indonesia menjelaskan bahwa herd immunity kemungkinan telah terjadi lantaran jumlah orang yang sudah terpapar COVID-19 di Jawa-Bali sebenarnya telah mencapai 65 persen dari populasi.
Menurut Miko, herd immunity dapat terjadi secara alamiah atau melalui vaksinasi. Apabila persentase populasi yang telah terpapar COVID-19 digabungkan dengan jumlah cakupan vaksinasi, maka angkanya mencapai lebih dari 70 persen.
"Jadi herd immunity itu bisa terjadi karena alamiah, bisa karena divaksinasi, jadi kalau dari kedua belah pihak digabungkan itu bisa saja herd immunity itu terjadi," jelas Miko kepada detikcom, dilansir pada Sabtu (14/8). "Jadi di Jawa dan Bali orang yang pernah terinfeksi proporsinya itu sudah 65 persen, sekarang kan proporsi dari vaksinasi 10 persen atau 11 persen."
Oleh sebab itu, Miko memprediksi badai kasus COVID-19 tidak akan terjadi lagi di wilayah Jawa-Bali. Kalaupun ada, maka lonjakan kasusnya relatif lebih kecil dan dapat terkendali.
"Kejadian peningkatan kasus, badainya sudah terjadi di Jawa Bali, tidak mungkin akan menjadi badai lagi kalaupun terjadi peningkatan ya terjadi tapi kecil," pungkasnya.
(wk/Bert)