Tak hanya uang tunai, para pelajar se-Surabaya juga memberikan bantuan lain berupa 134,5 ton beras, 35.628 liter minyak goreng, 42,7 ton gula, dan 11.401 dus mie instan.
- Bertilia Puteri
- Senin, 16 Agustus 2021 - 15:16 WIB
WowKeren - Pelajar di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Surabaya, Jawa Timur, telah menyerahkan bantuan senilai Rp 1,047 miliar untuk penanganan pandemi virus corona (COVID-19). Bantuan tersebut telah diserahkan kepada Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pada Jumat (13/8) pekan lalu.
Tak hanya uang tunai, para pelajar se-Surabaya juga memberikan bantuan lain berupa 134,5 ton beras, 35.628 liter minyak goreng, 42,7 ton gula, dan 11.401 dus mie instan. Aksi para pelajar Surabaya ini lantas menuai pujian dan decak kagum dari warganet.
"Nah harusnya hal-hal kayak gini yang patut disorot dan lebih diapresiasi:) HUHU SALUT, KEREN PARAHH!" tulis akun @un***__. "Hebat banget padahal masih pada sekolah," tambah akun @av***__.
Menariknya, sejumlah warganet turut menyentil mantan Menteri Sosial Juliari Batubara. Sebagai informasi, Juliari merupakan terdakwa kasus korupsi bantuan sosial (bansos) pandemi COVID-19. Ia telah menerima tuntutan 11 tahun penjara atas perbuatannya.
"Juliari malu g si liat ini? Malu kali ya?" komentar akun @he***an. "Juliari malu ga si liat beginian," timpal akun @vi***26.
"harusnya yg korupusi bansos buat covid malu liat ini, anak sd aja ngebela2in buat bisa ngebantu lah mrk cm tau ngabisin duid," tulis akun @HE***O1. "Big respect untuk kalian adik-adik. juliari pasti gak punya malu walaupun dia liat ini," tambah akun @ja***_i.
Di sisi lain, Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono telah menyampaikan rasa apresiasainya terhadap aksi para pelajar tersebut. "Apa yang dilakukan para pelajar Surabaya ini adalah keteladanan sekaligus kabar gembira bahwa ternyata tradisi gotong royong telah mengakar sejak dini di kalangan generasi belia kita," ujar Adi di Surabaya, Minggu (15/8).
Menurut Adi, para pelajar tersebut telah membuktikan bahwa rasa kemanusiaan tidak boleh berubah di masa sulit sekali pun. Pasalnya, rasa kemanusiaan karena akan mampu menumbuhkan sikap saling membantu.
"Yang menyatukan manusia di atas segala perbedaan agama, ideologi, suku, dan latar belakang adalah rasa kemanusiaan. Itu sudah terpatri di jiwa anak-anak muda Surabaya," pungkasnya. "Ini sangat membanggakan. Terima kasih anak-anakku."
(wk/Bert)