Soroti Lukisan Kritikan Dihapus Aparat, Gejayan Memanggil Gelar 'Lomba Mural Dibungkam'
AFP/Thomas Urbain
Nasional

Maraknya mural bernada kritikan terhadap kinerja pemerintah yang dihapus oleh aparat setempat belakangan ini, mendapat reaksi tersendiri bagi publik. Hal ini pun menjadi inspirasi untuk membuat suatu perlombaan.

WowKeren - Belakangan ini, banyak masyarakat yang mengutarakan aspirasi serta kritikan terhadap kinerja pemerintah melalui lukisan mural. Hal ini pun lantas menjadi sorotan publik.

Akan tetapi, mural-mural bernada kritikan terhadap pemerintah di tembok jalanan itu dihapus oleh aparat setempat. Menurut aparat, hal tersebut mengganggu kenyamanan masyarakat.

Merasa miris atas tindakan dari aparat yang menghapus mural tersebut, Gejayan Memanggil memutuskan untuk mengundang seluruh seniman jalanan di Indonesia ikut dalam "Lomba Mural Dibungkam". Adapun penilaian yang unik dalam lomba ini adalah lukisan mural yang berhasil dihapus aparat, justru mendapatkan nilai lebih dari para juri.

Lomba tersebut diumumkan oleh Gejayan Memanggil melalui Instagram pada Senin (23/8) kemarin. Perlombaan itu pun akan digelar hingga akhir Agustus 2021. Lomba ini pun telah dikonfirmasi oleh Humas Gejayan Memanggil dengan nama samaran Mimin Muralis kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/8).


"Konsepnya, menggambar adalah kebudayaan setiap anak, pemberangusan adalah kekeliruan penguasa atau orang dewasa," tutur Mimin. "Corat-coretan di tembok adalah cara-cara ketika kebebasan bersuara terbatas dan sekarang coretan itu pun dibatasi."

Mimin lantas menerangkan bahwa coretan-coretan mural bernada kritikan seperti yang terjadi belakangan ini, sebenarnya sudah ditemukan sejak zaman Kolonial Belanda di Indonesia puluhan tahun silam. Tak hanya itu, mural menjadi senjata masyarakat terjajah dalam melawan penjajah serta menumbuhkan semangat kemerdekaan.

"Melihat fenomena ini kami berusaha untuk melihat generasi sekarang yang tertekan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah menangani pandemi Covid-19 dengan cara-cara otoriter," tegas Mimin.

Menurut Mimin, goresan atau lukisan bernada kritis itu merupakan cara negara-negara Eropa dan bekas jajahan mereformasi politiknya. Banyak tempat umum yang dihiasi dengan lukisan-lukisan bernuansa satire, bahkan mengancam politisi.

Akan tetapi hal tersebut justru berbanding terbalik dengan Indonesia, kata Mimin, mural dianggap kriminal, sementara baliho sampah visual dinilai representasi suara rakyat. "Padahal itu suara oligarki yang punya uang untuk menyewa papan reklame dan mem-printing spanduk banner dan sebagainya yang merusak pemandangan kita secara estetik dan politik," pungkas Mimin.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts