Belum lama ini terdapat pejabat yang mengaku sudah menerima suntikan vaksin COVID-19 dosis ketiga ketika seharusnya booster hanya diberikan kepada tenaga kesehatan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 26 Agustus 2021 - 16:25 WIB
WowKeren - Beberapa waktu belakangan publik dibuat heboh dengan pengakuan pejabat publik yang sudah mendapat vaksin dosis ketiga alias booster. Padahal Kementerian Kesehatan sudah menegaskan booster hanya disediakan untuk tenaga kesehatan.
Kemenkes pun sudah menerangkan bahwa masyarakat umum belum memerlukan suntikan dosis ketiga dan sebaiknya mendahulukan nakes. Namun sebenarnya, mengapa masyarakat umum belum memerlukan suntikan dosis ketiga?
Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, M.Sc., Sp.PD., menjelaskan bahwa vaksinasi dosis ketiga sejauh ini lebih penting untuk nakes yang berisiko tinggi tertular COVID-19. "Ini kelompok yang berisiko sangat tinggi karena sehari-hari merawat pasien," kata Dirga dalam sebuah diskusi virtual, Rabu (25/8).
Sedangkan masyarakat umum belum direkomendasikan menerima suntikan dosis ketiga vaksin COVID-19. Sebab saat ini pemerintah berusaha mengejar target cakupan vaksin secara menyeluruh terlebih dahulu.
"Cakupan vaksin di Indonesia masih belum tinggi, baru sekitar belasan persen," terang Dirga, dikutip pada Kamis (26/8). Sebab memberikan perlindungan lebih, dengan makna menyuntikkan lebih banyak dosis, kepada satu orang tidak sebermanfaat apabila cakupan penerima vaksinnya diperluas.
"Ketimbang memvaksin satu orang, tiga, empat, atau lima kali tapi orang-orang di sekitar kita belum divaksin, manfaatnya hampir tidak ada. Jadi fokusnya harus meningkatkan cakupan vaksinasi," imbuh Dirga.
Hal senada juga sudah disampaikan Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi. Kemenkes sendiri pun kini telah mengeluarkan surat edaran untuk mengingatkan kembali bahwa booster hanya diberikan untuk tenaga kesehatan atau Dinas Kesehatan setempat yang "kecolongan" akan ditegur.
Di sisi lain, pemerintah menarget urusan vaksinasi akan rampung pada Januari 2022 mendatang, atau tepat setahun sejak pertama kali dilaksanakan awal tahun ini. Saat ini sudah ada beberapa jenis vaksin yang digunakan, yakni Sinovac, Bio Farma, AstraZeneca, Moderna, dan Pfizer.
(wk/elva)