Menurut Kepala Badan Komunikasi Strategis dan Koordinator Juru Bicara Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, belum saatnya pemerintah memamerkan kinerja terkait COVID-19.
- Bertilia Puteri
- Senin, 30 Agustus 2021 - 14:37 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo sempat mengundang sejumlah Ketua Umum Partai Politik Koalisi ke Istana beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, para Ketum Parpol Koalisi melontarkan pujian untuk Jokowi terkait penanganan pandemi COVID-19.
Puja-puji untuk Jokowi ini lantas dikritisi oleh Demokrat. Menurut Kepala Badan Komunikasi Strategis dan Koordinator Juru Bicara Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, belum saatnya pemerintah memamerkan kinerja terkait COVID-19.
"Apakah ini saat yang tepat untuk melantunkan puja dan puji, atau pun melakukan selebrasi? Apakah kita tidak sebaiknya menahan diri, dan terus mawas diri?" tutur Herzaky dikutip pada Senin (30/8). "Apakah empati sudah menjadi barang langka di negeri ini?"
Lebih lanjut, Herzaky menyinggung jumlah korban jiwa pandemi COVID-19 yang telah melampaui angka 130 ribu. Dengan banyaknya orang yang meninggal akibat pandemi, Herzaky menanyakan apakah pemerintah patut diklaim berprestasi.
"Di kala 130 ribu anak bangsa ini kehilangan nyawanya karena pandemi, apakah patut pemerintah diklaim berprestasi dan karenanya patut mendapatkan apresiasi?" ujarnya. "Di manakah hati nurani, para pejabat maupun tokoh publik negeri ini? Menebar pujian di saat situasi masih belum terkendali?"
Oleh sebab itu, pemerintah dimintanya untuk menahan diri dalam merayakan keberhasilan penanganan pandemi COVID-19. Herzaky menilai pemerintah sebaiknya melakukan evaluasi.
"Saat ini, masih terlalu dini untuk melakukan selebrasi. Lebih baik terus melakukan evaluasi. Dan, tentunya mempersiapkan mitigasi," paparnya. "Agar ada antisipasi jika nanti ada serbuan dari varian baru virus penyebab pandemi ini."
Herzaky tak ingin pemerintah mengulangi kesalahan yang sama seperti awal pandemi COVID-19 lalu. Apalagi varian baru COVID-19 disebut-sebut lebih menular.
Menurutnya, pemerintah saat ini lebih baik fokus untuk memikirkan dan menempuh kebijakan yang efektif. "Rasio jumlah pasien positif COVID-19, rasio jumlah kematian, maupun jumlah penduduk yang divaksin, masih sangat jauh dibandingkan standar WHO, ataupun negara-negara tetangga. Terlalu dini untuk berpuas diri," pungkasnya.
(wk/Bert)