Vaksin CanSino dan Johnson & Johnson Dapat EUA dari BPOM, Berapa Efikasinya?
Nasional
Vaksin COVID-19

Vaksin Johnson & Johnson menggunakan vektor Adenovirus Ad26 dan diberikan sebagai dosis tunggal. Sementara vaksin CanSino asal Tiongkok juga menggunakan vektor Adenovirus Ad5.

WowKeren - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization / EUA) untuk dua vaksin COVID-19 pada Selasa (7/9). Keduanya adalah vaksin Johnson & Johnson dan CanSino.

Kepala BPOM Penny Lukito menyatakan bahwa EUA untuk kedua jenis vaksin sudah mendapat penilaian Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI) terhadap data mutu vaksin mengacu pada pedoman evaluasi mutu vaksin yang berlaku secara internasional. "Badan POM kembali menerbitkan EUA bagi dua produk vaksin COVID-19 yang baru, yaitu Janssen COVID-19 Vaccine dan Vaksin Convidecia," tutur Penny.

Sebagai informasi, vaksin Johnson & Johnson, atau dikenal juga sebagai Janssen, adalah produk vaksin dosis tunggal. Vaksin ini dikembangkan oleh Janssen Pharmaceutical Companies dengan platform non-replicating viral vector menggunakan vektor Adenovirus Ad26.

Sementara vaksin Convidecia adalah produk dari CanSino Biological Inc., dan Beijing Institute of Biotechnology. Seperti J&J, vaksin ini dikembangkan dengan platform non-replicating viral vector berupa vektor Adenovirus Ad5.


Lantas berapa nilai efikasi dari kedua jenis vaksin tersebut? Dijelaskan Penny, menurut data interim studi klinis fase III pada 28 hari setelah vaksinasi, efikasi vaksin Janssen untuk mencegah keseluruhan gejala COVID-19 adalah sebesar 67,2 persen. Sedangkan efikasi untuk mencegah gejala COVID-19 berat untuk subjek di atas 18 tahun adalah 66,1 persen.

Sedangkan untuk efikasi vaksin CanSino untuk melindungi dari semua gejala COVID-19 adalah sebesar 65,3 persen. Sementara untuk perlindungan untuk kasus COVID-19 berat mencapai 90,1 persen. "Jadi hasilnya, kedua vaksin tersebut telah memenuhi standar persyaratan mutu," jelas Penny.

Di Indonesia, vaksin Janssen didaftarkan oleh PT Integrated Health Indonesia (IHI) yang bertanggung jawab untuk menjamin keamanan, khasiat, serta mutu vaksin. Sedangkan vaksin CanSino dipegang oleh PT Bio Farma.

Nantinya kedua jenis vaksin akan digunakan untuk warga berusia 18 tahun ke atas. Keduanya harus disimpan dalam kondisi khusus yakni di suhu 2-8 derajat Celsius.

Untuk vaksin Janssen juga disimpan pada suhu minus 20 derajat Celsius. "Pemberian sekali suntikan atau dosis tunggal sebanyak 0,5 mL secara intramuscular," pungkas Penny.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts